Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Berkompetisi di Shanghai Film Festival

11 hours ago 4

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang/RBMT (My Own Last Supper), produksi Matta Cinema Production yang berkolaborasi dengan Ruang Basbeth Bercerita akan berkompetisi di Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026. Festival ini akan berlangsung 12-21 Juni 2026 di Shanghai, Cina.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Selain terpilih dalam kompetisi utama, film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang/RBMT juga akan ditayangkan pertama kali secara internasional. Dalam kompetisi ini film yang disutradarai Ismail Basbeth ini berhasil masuk dalam tujuh kategori yang dikompetisikan yakni Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Skenario Terbaik, Sinematografer Terbaik, dan Desain Artistik Terbaik.

Sebelumnya project film ini pernah diluncurkan di Asian Content and Film Market (ACFM) Busan Internasional Film Festival 2025. Nugroho Dewanto, CEO dan produser Matta Cinema Production (MCP) mengatakan kebanggaannya dengan lolosnya film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang/RBMT di kompetisi ini. Selain Nugroho Dewanto, film ini diproduseri  oleh Imran Hasibuan dan Lyza Anggraheini.

 “Pencapaian ini merupakan kebanggaan sekaligus kehormatan bagi kami, mewakili Indonesia di ajang festival film kelas dunia seperti SIFF ini,” kepada Tempo, 4 Juni 2026.

Salah satu adegan dalam film My Own Last Supper (Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang) karya sutradara Ismail Basbeth yang terpilih masuk dalam kompetisi utama Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026. Dok. Matta Cinema Production

Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karangan Wisnu Suryaning Adji.  Sejumlah aktor senior yang berperan dalam film ini antara lain Ferry Salim, Melissa Karim, dan Verdi Soleiman. Film ini juga menjadi debut bagi Jessy Davita, Nicholas Anderson, dan Rocky Gerung.

Film RBMT mengisahkan tentang diskriminasi kepada warga minoritas keturunan Cina. Dalam perjalan hidupnya  mengalami banyak peristiwa yang membuat hidupnya menjadi gelap. "Mengisahkan seorang pria tua Tionghoa yang mengalami trauma psikologi dan politik, karena identitas etnisnya,"ujar Nugroho Dewanto lagi.

Sutradara RBMT, Ismail Basbeth, mengatakan melalui tokoh Encek dalam film ini, mereka mencoba mengajak penonton memahami realitas kehidupan seorang keturunan Cina di Indonesia.

"Kami ingin menyentuh dan mengajak penonton agar mampu memahami apa yang terjadi dalam hidup Encek, dalam sebuah cerita tentang trauma generasi yang berhasil diputus oleh seseorang yang berani mengubah nasib diri dan keluarganya," ujar Basbeth.

Imran Hasibuan menjelaskan timnya akan berangkat menjelang pembukaan festival. Mereka bersiap untuk menggelar lima kali pemutaran film dalam kompetisi tersebut. Disampaikan pula tiket penjualan untuk film ini cukup laris, diminati calon penonton di Shanghai International Film Festival. Imran juga mengatakan pencapaian film ini menandai kebangkitan kembali Matta Cinema Production di industri film Indonesia.  Rencananya, film ini akan diputar di bioskop di tanah air akhir tahun ini.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |