Mendikti Brian Kritik Kultur Orang Indonesia yang Gemar Dipanggil Profesor

1 day ago 5

MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengkritik kultur orang Indonesia yang gemar dipanggil dengan gelar-gelar akademik seperti sebutan profesor. Dia mengungkapkan, kultur menempuh pendidikan hanya demi gelar semacam itu tak ada di negara lain.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Brian juga menyinggung, kebiasaan orang Indonesia yang bahkan surat keterangan lulus dari program strata tiga saja belum dipegang, tapi sudah ingin dipanggil profesor.

"Kita ini SK belum keluar saja kadang-kadang sudah minta dipanggil "Prof". Baru dapat informasi, ‘wah bapak lulus Pak’, ‘besok panggil saya profesor ya’, SK belum keluar, ya memang kita masih perlu ini ya,” kata Brian dalam pidatonya di acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Penerima Beasiswa Garuda Tahun 2026 di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, pada Kamis, 9 Juli 2026.

Brian mengingatkan para penerima beasiswa garuda untuk tidak meneruskan cara pandang yang seperti itu. Dia menekankan, para penerima beasiswa garuda tetap rendah hati dan tidak sombong. Menurut Brian, orang-orang yang mempunyai karier gemilang tak memiliki sifat sombong. “Orang hebat itu enggak banyak drama, enggak banyak tampil, mereka bekerja dalam ketekunan,” kata dia.

Selain itu, dia juga berpesan agar para penerima beasiswa garuda yang sudah diterima untuk menempuh pendidikan di luar negeri dapat mencari guru dan belajar sebanyak-banyaknya dari guru tersebut. Brian mencontohkan, dia memiliki guru bernama Omar M. Yaghi. Omar merupakan pakar kimia keturunan Palestina-Yordania-Amerika.

Brian bercerita, gurunya itu juga merupakan pemenang Nobel Kimia pada 2025 atas jasanya memelopori dan mengembangkan Metal-Organic Frameworks (MOFs), yaitu material berpori revolusioner yang dapat digunakan untuk menyimpan gas hingga menyerap air dari udara.

Mendikti juga mengatakan, ia pernah melakukan riset bersama Omar. “Sejak dulu, saya sudah kerja sama dia, sejak tahun 2000-an. Pertama kali saya ketemu sekitar mungkin tahun 2008 atau 2009 di Korea. Ini orang, kalau dosen pasti tahu namanya high indeks. Dia 202. Jadi mungkin jumlah paper kita saja kalah sama high index-nya dia,” kata Brian.

Brian mengungkapkan betapa ia mengagumi seorang Omar M. Yaghi. Dia ingin mengatakan, contoh orang yang rendah hati dan tidak sombong itu seperti Omar. Brian juga mengatakan, Omar enggan dipanggil dengan sebutan gelar akademik seperti kebiasaan orang Indonesia. “Just call me Omar. Panggil saya Omar saja,” kata Brian.

Dengan kemampuan intelektualnya yang tinggi dan pengalaman riset yang luar biasa, Brian mengatakan Omar juga tak lupa diri. Ia tetap menjaga sikap dan rendah hati. Brian berpesan hal itu bisa ditiru oleh anak-anak Indonesia, terutama penerima beasiswa garuda yang sebentar lagi akan menempuh pendidikan di negeri orang.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |