Pengamat HI UI: 3 Hal Pasca-MoU AS-Iran

4 hours ago 2

MESKIPUN Iran dan Amerika Serikat sepakat mengakhiri perang, tidak lantas menandai berakhirnya dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah. Kekhawatiran ini diungkapkan dosen Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Shofwan Al Banna Choiruzzad. 

Dalam rekaman video yang diunggah pada Jumat, 19 Juni 2026, di akun Instagram miliknya, Shofwan menuturkan setidaknya terdapat tiga kemungkinan yang mungkin terjadi pascapenandatanganan nota kesepahaman (MoU) tersebut.

Penentangan Israel

Yang pertama menurut Shofwan, Israel akan melakukan segala cara untuk menggagalkan perundingan damai lebih jauh. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Israel menganggap kesepakatan damai ini merupakan bentuk kegagalan strategis, dan akan melakukan berbagai cara untuk menggagalkannya,” kata Shofwan seperti dikutip Tempo

Pengamat hubungan internasional itu menilai upaya menggagalkan rekonsiliasi konflik merupakan keniscayaan bagi karier politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Selain itu, berbagai kalangan oposisi di pemerintahan Israel melabeli Netanyahu sebagai pemimpin yang gagal dan tunduk kepada AS. 

“Pemerintah Israel bahkan sudah menyiapkan daftar target operasi yang akan ditembak, jika perdamaian yang final tidak dapat tercapai,” kata dia.

Biaya Perang

Yang kedua, dia juga bahwa mengatakan Trump tengah mengevaluasi dampak politik dari perubahan pendekatan Washington terhadap perang Iran.

Menurut dia, dukungan penuh kepada Israel dinilai menimbulkan biaya politik yang tidak setimpal sehingga mendorong perubahan strategi. Hal ini mengingat perang selama 112 hari itu menyeret AS ke dalam kerugian politik yang sangat mahal.

“Sekarang Trump akan melihat apakah perubahan strategi ini akan membuahkan hasil atau justru semakin terpuruk,” katanya.

Salah satu pendiri kanal independen Kontekstual itu memperingatkan kemungkinan munculnya narasi yang menyoroti kegagalan AS terkait perang di kawasan. Sebab, kata dia, narasi itu yang diinginkan rezim Zionis untuk mendorong kembali AS ke dalam pertempuran.  

Palestina

Lebih lanjut, Shofwan menilai kekalahan Zionis terhadap Iran berpotensi meningkatkan kebrutalan operasi militer di Palestina.

Menurut pandanganya, jika hal itu tidak segera dihentikan, Israel semakin menebar teror bahkan bertindak represif di Tepi Barat dan Jalur Gaza, wilayah otoritas Palestina.  

Dia mengimbau bahwa kesempatan ini merupakan peluang untuk mebangun solidaritas kemanusiaan  serta mengupayakan perdamaian permanen bagi warga Palestina. 

“Jadikan momentum kesepakatan damai ini bukan untuk melupakan Gaza, tetapi justru kesadaran bahwa kekuatan militer raksasa dapat dikalahkan dengan keteguhan,” tutur Shofwan. 

Pada Jumat, perundingan teknis antara AS dan Iran yang seharusnya akan dilangsungkan di Swiss untuk membahas implementasi kesepakatan gencatan senjata permanen ditunda.

Penundaan terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Zionis di Libanon Selatan yang memicu keberatan Iran. 

Menurut sejumlah laporan, Iran menunda pengiriman delegasinya ke Swiss karena serangan militer Zionis yang terus berlangsung. Serangan yang terjadi sejak Kamis malam hingga Jumat itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |