KEPALA Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai narasi stabilitas Indonesia perlu didorong lebih jauh menuju kemampuan membiayai pertumbuhan secara lebih strategis dan berkelanjutan. Ini sebagai respons atas pernyataan Bank Indonesia yang mengklaim bahwa International Monetary Fund (IMF) dan investor global mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Menurut Fakhrul, tantangan hari ini bukan lagi sekadar stabilitas, melainkan apakah Indonesia memiliki arsitektur pendanaan yang cukup kuat untuk menopang ambisi pertumbuhan ke depan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Selama ini kita terlalu nyaman dengan narasi disiplin fiskal—defisit di bawah 3 persen, rasio utang terjaga. Itu penting, tapi belum cukup. Pasar hari ini ingin tahu lebih dari itu: what is the funding story? dan how credible is the path forward?,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2026.
Di tengah meningkatnya biaya pendanaan berbasis dolar, Fakhrul mengatakan Indonesia perlu lebih agresif membangun alternatif, termasuk melalui skema local currency settlement. Local currency settlement adalah transaksi bilateral yang menggunakan mata uang lokal masing-masing negara.
Dalam konteks tersebut, Fakhrul menyoroti peluang pemanfaatan mata uang dengan karakter low yielding seperti CNH (offshore renminbi) sebagai sumber likuiditas yang lebih efisien, terutama untuk mendukung perdagangan dan investasi bilateral. “Ada kantong-kantong likuiditas dengan biaya lebih rendah, dan kita harus bisa mengaksesnya—baik melalui kerja sama bilateral maupun desain instrumen keuangan yang lebih inovatif,” ucapnya.
Sebelumnya, BI mengatakan Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyebut Indonesia sebagai salah satu bright spot dalam perekonomian global. Pernyataan itu diutarakan dalam pertemuan antara Kristalina dengan Gubernur BI Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam rangkaian IMF Spring Meetings.
“IMF dan investor global mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang solid, disiplin dalam mempertahankan defisit di bawah 3 persen dari PDB, serta respons kebijakan yang adaptif dan forward-looking dalam menghadapi tekanan eksternal,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pinoto dalam siaran pers pada Rabu, 15 April 2026.

















































