Artjog 2026 Diwarnai Protes Seniman

16 hours ago 6

Helatan pameran seni tahunan ArtJog 2026 resmi dibuka dengan pidato kebudayaan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Pengageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta pada pada 19 Juni 2026 di pelataran Jogja National Museum, Yogyakarta. Kehadiran GKR Bendara menggantikan Didit Hediprasetyo, anak Presiden Prabowo yang rencananya membuka acara. Sejumlah seniman dan mitra bisnis melakukan protes keterlibatan Yayasan Didit Hediprasetya di ArtJog 20206. Bahkan beberapa orang pemrotes ditangkap karenanya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Jelang pembukaan beberapa protes muncul di media sosial karena keterlibatan Yayasan Didit Hediprasetyo dalam acara ini. Tautan poster digital yang mengumumkan kehadiran Didit untuk pembukaan tiba-tiba hilang, tidak dapat dibuka dan diganti dengan poster berwarna merah muda. Di poster publikasi digital tertulis GKR Bendara yang membuka acara. ArtJog 2026 bertema “Ars Longa Generatio” melibatkan 96 seniman, dikuratori oleh Farah Wardani dan pameran  berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026.

Ketegangan pecah usai pembukaan helatan pameran seni Artjog 2026 di pelataran pelataran Jogja National Museum, Yogyakarta, pada Jumat malam, 19 Juni 2026. Sekelompok orang melemparkan cat merah ke fasad terakota Artjog karya seniman Roby Dwi Antono. Mereka yang menggunakan penutup kepala menaburkan bunga, seperti menaburkan bunga pada peristiwa kematian. Sejumlah petugas keamanan kemudian menangkap para pemrotes, memukuli dan menginterogasi orang tersebut. Aksi ini bentuk protes atas keterlibatan Yayasan Didit Hediprasetyo dalam Artjog 2026 yang berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026.

Pemrotes, menamakan kelompoknya sebagai Art Jokes, sindiran terhadap ArtJog mengekspresikan kekecewaannya karena festival seni kontemporer itu menerima dana dari Didit Hediprasetyo Foundation, yayasan yang didirikan Didit Hediprasetyo, anak Presiden Prabowo Subianto.

"Aksi teatrikal dan pelemparan cat itu bagian dari kebebasan berekspresi dalam seni," kata Agam Wispi, nama yang diakui salah satu pemrotes Art Jokes ditemui di Jogja National Museum, Jumat, 19 Juni 2026.   Dia juga mengkritik petugas keamanan ArtJog yang berlebihan dan represif. 

Direktur Program ArtJog Gading Paksi meminta maaf terhadap pemrotes ArtJog yang mengalami pemukulan. Penangkapan dan pemukulan itu menurut dia di luar ketentuan ArtJog. Gading menyatakan menghargai protes tersebut sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Dia tidak menampik sebagian mitra ArtJog batal bekerjasama setelah polemik pendanaan Didit Hediprasetyo Foundation mencuat ke publik.

Pertunjukan seni (performance art) digelar sebagai aksi protes terhadap ARTJOG 2026 terkait polemik keterlibatan pendanaan dari Didit Hediprasetyo Foundation, yayasan milik putra Presiden Prabowo Subianto, di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, 19 Juni 2026. Tempo/Shinta Maharani

Polemik Sebelum Pembukaan

Sebelumnya beberapa seniman dan mitra bisnis mengajukan protes di media sosial. Salah satu seniman yang memprotes adalah Irene Agrivina, pendiri Honf, laboratorium seni media baru dan teknologi. Sehari sebelum pembukaan Artjog, Honf melalui akun Instagram mengunggah protes tentang keterlibatan Didit. Mereka keberatan Didit membuka acara karena berkaitan dengan tanggungjawab, nilai, dan sikap ruang seni.

Menurut Irene Honf sejak awal tidak tahu manajemen Artjog melibatkan yayasan Didit dalam pendanaan. Seniman Honf hanya berkomunikasi dengan kurator untuk mempresentasikan karya seni yang dipajang di ruang pamer. Honf berencana menutup akses menuju ruang pamer yang memajang karya mereka bila Didit datang membuka acara. Tapi karena Didit batal datang, seniman Honf tetap memamerkan karyanya.

Manager ViaVia Restaurant, Janti Wignjopranoto mengatakan pihaknya membatalkan kerjasama dengan Artjog karena keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation. ViaVia juga mengunggah alasan membatalkan keterlibatannya di Artjog melalui akun Instagram. Dihubungi melalui sambungan telepon, Janti menyatakan pembatalan itu bagian dari menjaga prinsip independensi, keberagaman, partisipasi, dan transparansi. ViaVia mengambil posisi yang selaras dengan nilai, arah, dan komitmen yang selama ini mereka pegang.

Dukungan Finansial

CEO dan Pendiri ArtJog, Heri Pemad menyatakan ArtJog melibatkan Didit Hediprasetyo Foundation karena melihat yayasan tersebut memiliki perhatian dan visi yang sama untuk memajukan ekosistem seni dan budaya di Indonesia. Yayasan tersebut memberikan dukungan finansial. “Tidak mempengaruhi keputusan artistik maupun arah kuratorial festival,” kata Pemad kepada Tempo, 19 Juni 2026.

Heri Pemad tidak menjelaskan jumlah dana yang mereka terima untuk helatan tersebut. Yayasan itu, kata dia satu dari sekian mitra pendukung karena Artjog tidak pernah bergantung pada satu sponsor tunggal. Pemad beralasan sejak awal berdiri, Artjog muncul dari semangat gotong royong dan kolaborasi seniman, instansi pemerintah, sektor swasta, dan pengunjung publik melalui pembelian tiket.

Heri Pemad mengundang Didit membuka acara sebagai bentuk apresiasi yang lazim dalam kemitraan. Namun menurut Heri Pemad, Didit berhalangan datang karena  punya agenda lain pada hari yang sama. Pemad menghargai sikap kritis publik, khususnya seniman yang menandakan ekosistem seni hidup. Pernyataan tersebut wujud kebebasan berekspresi dalam ekosistem seni yang sehat dan dinamis. Kritik seniman bagian dari pelajaran bagi manajemen ArtJog dalam membangun kemitraan. “Bentuk rasa sayang dan perhatian mereka ke ArtJog,” ujar dia.

Dosen Jurusan Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Mikke Susanto mengatakan Manajemen ArtJog semestinya tidak mengabaikan Didit sebagai anak Prabowo yang punya rekam jejak pelanggar hak asasi manusia selama Orde Baru berkuasa.

Munculnya protes publik menurut Mikke cukup bagus karena menggambarkan ArtJog bukan hanya festival seni yang memajang karya, melainkan sebagai produk kebudayaan." Kritik publik menunjukkan perhatian mereka terhadap Artjog sebagai festival milik masyarakat,” ujar Mikke.

Polemik pendanaan Artjog bukan kali pertama. Pada 2016, keterlibatan PT Freeport di ArtJog menuai protes seniman. Ada sejumlah pernyataan sikap menolak sponsor Freeport, demonstrasi, aksi vandalisme menutup logo secara sementara, hingga saweran untuk mengembalikan uang sebanyak Rp 100 juta ke perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu. Menurut Mikke, sengkarut Art Jog yang menggandeng sponsor itu perlu menjadi perhatian agar tak terulang kembali. “Tim manajemen perlu membongkar ulang konsep pendanaan apakah sesuai dengan harapan publik,” katanya.

Tempo masih berusaha mendapatkan wawancara kepada pihak Yayasan Didit Hediprasetya hingga berita ini diturunkan.

 Pilihan Editor:

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |