BMKG: Kemarau Tahun Ini Lebih Kering, Puncaknya September

3 hours ago 3

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan puncak musim kemarau tahun ini di Indonesia baru akan terjadi pada Agustus hingga September. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mewaspadai potensi perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang diperkirakan lebih parah dibandingkan kondisi musim kemarau umumnya.

Faisal menyebut, setelah fase puncak musim kemarau itu, beberapa wilayah akan memasuki musim dengan curah hujan tinggi pada Oktober hingga November. “Curah hujan yang lebih tinggi muncul di beberapa wilayah,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Musim Kemarau yang dipantau virtual pada Kamis, 30 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hingga pertengahan Juli, sebanyak 509 zona musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen luas daratan Indonesia tercatat telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, 77 ZOM atau 11,8 persen masih terhitung mengalami musim hujan, dan 113 ZOM atau 33,7 persen lainnya tergolong tipe satu musim.

Kemarau Lebih Kering

Faisal membeberkan, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal. BMKG mengidentifikasi sebanyak 437 ZOM atau 48,77 persen luasan daratan berpotensi menghadapi durasi kemarau yang lebih panjang dari normal tersebut. 

Hingga 28 Juli 2026, kata Faisal, pemantauan BMKG juga menunjukkan adanya 4.900 titik panas (hotspot). Konsentrasi titik panas tertinggi terdeteksi di Kalimantan Barat, Riau, Papua Selatan, Aceh, dan Kalimantan Timur. "Temuan ini turut menjadi indikasi awal meningkatnya risiko karhutla menjelang puncak kemarau," ujarnya.

Sebagai langkah penanggulangan, BMKG menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mitigasi karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah rawan. Operasi ini berjalan berkat dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Operasi Modifikasi Cuaca saat ini sudah berjalan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Selain itu, kami menyiapkan posko OMC tambahan untuk memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi,” ucap Faisal.

Faktor El Nino

Dikutip dari keterangan terpisahnya, BMKG juga mengungkap kalau perkembangan iklim global masih menunjukkan kondisi yang mendukung berlanjutnya cuaca kering di Indonesia. Nilai indeks Niño 3.4 dasarian tercatat sudah sebesar +2.26 menandakan berlangsungnya El Niño kuat yang diprakirakan masih dapat mengalami penguatan.

"Fenomena tersebut berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan menekan curah hujan di berbagai wilayah," bunyi keterangan Direktorat Meteorologi Publik BMKG pada hari yang sama.

Diperkirakan, periode dasarian I Agustus 2026, curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 91,43 persen wilayah Indonesia. Sementara 8,57 persen yang berada pada kategori menengah, tanpa adanya wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori tinggi maupun sangat tinggi.

"Kondisi kering mulai memberikan dampak nyata, berupa berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya jumlah titik panas, serta semakin tingginya risiko kebakaran pada lahan dan vegetasi yang mengering."

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |