BRIN: Anggrek Merpati Berpotensi Dukung Produk Nutraseutikal

2 hours ago 1

TIM peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa anggrek merpati (Dendrobium crumenatum) tumbuh melimpah di berbagai kawasan konservasi Indonesia, namun potensi pemanfaatannya hingga kini masih belum optimal. Anggrek tersebut memiliki potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif untuk pengembangan produk nutraseutikal, yaitu produk kesehatan berbahan alami.

Hasil penelitian BRIN menunjukkan bahwa perbedaan lingkungan tempat tumbuh memengaruhi komposisi metabolit tanaman sehingga menghasilkan aktivitas antioksidan dan antibakteri yang berbeda.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Applied Biochemistry and Biotechnology tersebut dilakukan melalui pendekatan metabolomik berbasis Ultra High Performance Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (UHPLC-HRMS). Penelitian itu membandingkan profil metabolit daun dan batang Dendrobium crumenatum yang dikoleksi dari dua kawasan konservasi, yaitu Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional Ujung Kulon.

Peneliti postdoctoral Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Salsabila Aqila Putri, mengatakan  penelitian ini bertujuan mengungkap hubungan antara kondisi lingkungan dan kandungan metabolit tanaman sekaligus mengevaluasi potensi biologisnya.

"Kami menemukan bahwa lokasi geografis kawasan konservasi berpengaruh nyata terhadap profil metabolit anggrek Dendrobium crumenatum. Faktor-faktor tersebut memicu pembentukan metabolit sekunder yang berbeda sebagai mekanisme adaptasi tanaman," ujar Salsabila melalui keterangan tertulis, Selasa, 14 Juli 2026.

Analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi 48 senyawa metabolit. Senyawa tersebut terdiri atas sekitar 54 persen metabolit sekunder seperti senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid, serta 46 persen metabolit primer berupa asam lemak, asam amino, dan turunannya. 

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa sampel dari Kebun Raya Bogor lebih kaya akan kelompok asam lemak dan alkaloid, sedangkan sampel dari Taman Nasional Ujung Kulon memiliki kandungan fenolik dan flavonoid yang lebih tinggi. Menurut Salsabila, perbedaan tersebut merupakan respons alami tanaman terhadap kondisi lingkungan masing-masing kawasan konservasi.

"Tanaman yang tumbuh di Kebun Raya Bogor cenderung menghadapi tekanan lingkungan akibat urbanisasi, selain itu kandungan total nitrogen yang tinggi pada tanah meningkatkan komponen senyawa asam lemak dan alkaloid pada anggrek," ujarnya.

Sementara itu, curah hujan yang lebih rendah di Taman Nasional Ujung Kulon menyebabkan tanaman cenderung mengalami stres air. "Kondisi tersebut memicu peningkatan kandungan metabolit yang berperan mencegah stres oksidatif, seperti senyawa fenolik dan flavonoid pada anggrek merpati di Taman Nasional Ujung Kulon," ujarnya.

Selain memetakan metabolit, tim peneliti juga menguji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, ABTS, dan FRAP. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak daun dari Taman Nasional Ujung Kulon memiliki aktivitas antioksidan tertinggi melalui mekanisme penangkapan radikal ABTS dengan nilai IC sebesar 99,23 µg/mL serta aktivitas FRAP sebesar 200,78 mg TE/gram. Sementara itu, ekstrak daun dari Kebun Raya Bogor menunjukkan aktivitas terbaik dalam menghambat radikal DPPH dengan nilai IC sebesar 242,5 µg/mL.

Pengujian antibakteri juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Ekstrak daun dan batang dari Kebun Raya Bogor mampu memberikan penghambatan tertinggi terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, masing-masing sebesar 70,15 persen dan 86,44 persen. Sementara itu, ekstrak batang dari Taman Nasional Ujung Kulon menunjukkan aktivitas paling tinggi terhadap Staphylococcus aureus.

Mekanisme kerja lebih spesifik terhadap protein penting yang berperan dalam pembentukan dinding sel Pseudomonas aeruginosa, yaitu Penicillin-Binding Protein 2 (PBP2) diprediksi melalui simulasi komputasi molecular docking.

Beberapa senyawa dominan yang teridentifikasi pada ekstrak daun dan batang anggrek melalui UHPLC-HRMS disimulasikan terhadap enzim PBP2. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sejumlah senyawa fenolik pada anggrek memiliki afinitas ikatan yang kuat terhadap protein tersebut sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. Senyawa 4',6-dihydroxy-3'-methoxyaurone menjadi kandidat paling menjanjikan dengan nilai afinitas ikatan tertinggi di antara senyawa yang diuji.

Ia menyebutkan bahwa temuan ini membuka peluang pemanfaatan anggrek yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, misalnya menjadi sumber bahan baku produk kesehatan berbasis hayati.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa metabolit pada Dendrobium crumenatum tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh, tetapi juga menentukan aktivitas antioksidan dan antibakterinya. Temuan ini menjadi dasar ilmiah untuk pengembangan anggrek merpati sebagai kandidat bahan baku nutraseutikal maupun produk kesehatan berbasis sumber daya hayati Indonesia," ujarnya.

Penelitian ini menunjukkan pentingnya kawasan konservasi sebagai sumber plasma nutfah yang berperan menjaga keanekaragaman hayati. Selain itu, kata dia, kawasan konservasi juga menyimpan potensi senyawa bioaktif bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung inovasi di bidang pangan fungsional, kesehatan, dan bioteknologi. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |