Cegah Deepfake, YouTube Deteksi Kemiripan Artis Pakai AI

6 hours ago 3

PLATFORM YouTube memperluas teknologi likeness detection untuk mendeteksi konten berbasis akal imitasi (AI), termasuk deepfake, ke kalangan industri hiburan. Pengumuman ini disampaikan perusahaan sebagai bagian dari upaya melindungi figur publik dari penyalahgunaan identitas.

Menurut laporan Tech Crunch pada 21 April, teknologi tersebut bekerja mirip dengan sistem Content ID milik YouTube, yang selama ini digunakan untuk mendeteksi materi berhak cipta dalam video pengguna. Melalui sistem itu, pemilik hak dapat meminta penghapusan konten atau memperoleh bagian pendapatan dari video yang memuat karya mereka.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Namun, berbeda dengan Content ID, fitur likeness detection difokuskan pada wajah yang disimulasikan. Teknologi ini dirancang untuk membantu kreator dan figur publik mengatasi maraknya penggunaan wajah mereka tanpa izin, termasuk dalam iklan penipuan yang kerap menyasar selebritas.

Sebelumnya, fitur ini telah diuji coba pada sebagian kreator YouTube tahun lalu. Pada musim semi tahun ini, cakupannya diperluas ke politisi, pejabat pemerintah, dan jurnalis. Kini, YouTube juga menghadirkannya untuk pelaku industri hiburan, termasuk agensi talenta dan perusahaan manajemen.

Sejumlah agensi besar seperti CAA, UTA, WME, dan Untitled Management turut mendukung pengembangan teknologi ini dengan memberikan masukan. Penggunaan fitur ini juga tidak mensyaratkan selebritas memiliki kanal YouTube sendiri.

Dalam praktiknya, sistem akan memindai konten AI untuk menemukan kecocokan visual dengan wajah yang telah didaftarkan. Jika ditemukan pelanggaran, pengguna dapat mengajukan penghapusan video karena pelanggaran privasi, mengirim klaim hak cipta, atau memilih tidak mengambil tindakan. Meski demikian, YouTube menegaskan tidak semua konten akan dihapus, karena parodi dan satire tetap diperbolehkan sesuai kebijakan.

Ke depan, YouTube berencana menambahkan kemampuan deteksi pada audio. Selain itu, perusahaan juga mendukung regulasi di tingkat federal melalui NO FAKES Act di Amerika Serikat, yang bertujuan mengatur penggunaan AI dalam menciptakan ulang suara dan kemiripan visual seseorang tanpa izin.

Meski demikian, YouTube belum mengungkap jumlah pasti konten deepfake yang telah ditindak melalui teknologi ini. Perusahaan hanya menyebut pada Maret lalu bahwa jumlah penghapusannya masih sangat kecil.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |