ESDM: Penggunaan CNG Dilakukan Bertahap

4 hours ago 2

DIREKTUR Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan pemanfaatan compressed natural gas (CNG) dalam tabung ukuran 3 kilogram untuk rumah tangga dilakukan secara bertahap. Pemerintah belum memastikan CNG bisa sepenuhnya menggantikan LPG 3 kilogram dalam waktu dekat.

“Kalau kita bilang pengganti, itu masif dan sangat besar. Jadi ada tahapan-tahapannya,” kata Laode saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Saat ini Kementerian ESDM masih merampungkan uji keselamatan distribusi CNG dalam tabung 3 kilogram seperti halnya distribusi LPG bersubsidi. Menurut Laode, aspek keamanan menjadi syarat utama sebelum program tersebut diterapkan untuk rumah tangga.

“Ini melibatkan lintas kementerian dan Badan Standardisasi Nasional yang menerbitkan standarnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Laode menjelaskan, pemanfaatan CNG diharapkan dapat menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG). Selama ini impor LPG menjadi salah satu beban besar anggaran negara dengan nilai subsidi mencapai Rp 80,3 triliun per tahun.

Menurut penghitungan Kementerian ESDM, substitusi LPG dengan CNG berpotensi menghemat hingga 30 persen dari total anggaran subsidi tersebut. “Dengan harga yang sama seperti LPG 3 kilogram, negara bisa menghemat 30 persen karena subsidi CNG lebih rendah dibanding subsidi LPG,” ucap Laode.

Meski sama-sama berbentuk gas, CNG dan LPG memiliki perbedaan mendasar. CNG berasal langsung dari gas alam yang sebagian besar mengandung metana. Gas tersebut dimurnikan, lalu dikompresi pada tekanan tinggi tanpa diubah menjadi cair.

Sementara itu, LPG merupakan hasil olahan minyak bumi atau gas alam yang dipisahkan menjadi propana dan butana di kilang, lalu dicairkan agar lebih mudah disimpan dan didistribusikan. Karena perbedaan proses tersebut, CNG tetap berada dalam bentuk gas di dalam tabung bertekanan tinggi. Adapun LPG disimpan dalam bentuk cair dan berubah menjadi gas saat digunakan.

Di Indonesia, LPG selama ini lebih umum digunakan oleh rumah tangga karena praktis didistribusikan dalam tabung. Sementara itu, CNG lebih banyak dimanfaatkan di sektor industri dan jaringan gas perkotaan melalui distribusi pipa.

Namun, Laode mengatakan, distribusi CNG tidak harus bergantung pada jaringan pipa. Sebagai alternatif, CNG dapat disalurkan menggunakan tabung bertekanan tinggi dengan material khusus yang mampu menahan gas terkompresi.

Menurut dia, skema distribusi tersebut bukan hal baru karena telah digunakan secara terbatas di sektor komersial, seperti restoran dan hotel. Dari sisi keamanan, Laode memastikan teknologi tabung CNG telah berkembang hingga generasi keempat dan dinilai cukup andal.

“Yang paling penting sudah dipatenkan. Saya targetkan dalam tiga bulan sudah mendapatkan paten. Jadi bukan bikin baru dan merangkai tabung,” kata Laode.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |