Festival Musik Lebih Intim di Sunset di Kebun 2026

4 hours ago 2

FESTIVAL Sunset di Kebun hari pertama sukses digelar di Kebun Raya Bogor pada Sabtu, 9 Mei 2026. Tidak hanya menghadirkan konser musik, festival ini juga dipenuhi aktivitas, pertunjukan budaya, hingga edukasi tanaman yang diharapkan dapat membuat pengunjung lebih dekat dengan alam.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sejak siang, area Kebun Raya Bogor dipenuhi pengunjung yang datang membawa tikar dan duduk santai di atas rerumputan. Di tengah rindangnya pepohonan, alunan musik, suara tawa, dan obrolan para penonton bercampur menjadi satu.

Hari pertama terasa lebih dari sekadar festival musik. Acara ini menghadirkan pengalaman yang hangat dan dekat, memadukan musik, budaya, aktivitas kreatif, hingga edukasi dalam suasana alam terbuka.

Tidak hanya dipenuhi oleh pengunjung dari kalangan anak muda, festival ini juga ramai oleh keluarga muda yang datang bersama anak-anak mereka. Ribuan pengunjung memadati area festival sepanjang hari pertama berlangsung.

Berbeda dengan festival musik pada umumnya yang identik dengan hiruk-pikuk dan keramaian, justru menghadirkan konsep yang lebih santai dan intimate. Pengunjung datang bukan hanya untuk menonton musisi favorit, tetapi juga menikmati pengalaman berkumpul di tengah alam.

Aktivitas Kreatif Jadi Ruang Berkumpul


Sejak pagi, area aktivitas kreatif sudah dipenuhi pengunjung yang antusias mengikuti berbagai kegiatan. Beberapa tampak sibuk merangkai bunga, sementara yang lain duduk santai melukis pot bersama teman maupun keluarga.

Di sudut lain, pengunjung terlihat asyik meronce beads dengan penuh semangat. Aktivitas sederhana tersebut justru menjadi salah satu daya tarik utama karena menghadirkan pengalaman yang terasa hangat dan personal.

Festival ini seolah memberi ruang bagi pengunjung untuk menikmati waktu dengan lebih pelan. Tidak terburu-buru berpindah dari satu penampilan ke penampilan lain, melainkan benar-benar menikmati momen bersama orang-orang terdekat.

Nuansa Budaya dan Edukasi di Tengah Festival


Tidak hanya menghadirkan hiburan musik, juga membawa nuansa budaya ke tengah festival. Penampilan Tari Merak dan Tari Ponorogo sukses mencuri perhatian pengunjung yang memadati area acara.

Alunan musik dari komunitas biola asal Tangerang turut menghadirkan nuansa syahdu di tengah hamparan hijau kebun raya. Penampilan tersebut membuat atmosfer festival terasa semakin hangat menjelang sore hari.

Di sisi lain, festival ini juga menghadirkan kelas pengenalan tanaman Hoya yang menjadi salah satu Hero Plants pada tema tahun ini. Pengunjung diajak mengenal lebih dekat jenis tanaman tersebut sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestarian alam dan ruang hijau.

Konsep itu membuat terasa tidak hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga tempat belajar dan menikmati alam secara lebih dekat.

Penampilan Musisi di Tengah Hujan


Cuaca yang berubah-ubah sepanjang hari tidak mengurangi antusiasme penonton. Terik matahari di siang hari perlahan berganti mendung sebelum akhirnya hujan turun di penghujung acara.

Alih-alih bubar, para penonton justru tetap bertahan menikmati konser di tengah rintik hujan. Sebagian mengenakan jas hujan, yang lain saling berbagi tempat berteduh sambil tetap bernyanyi mengikuti lagu yang dibawakan musisi di atas panggung.

Momen itu terasa semakin emosional ketika Fiersa Besari tampil di tengah gerimis yang turun perlahan. Suasana berubah menjadi lebih syahdu saat Bernadya naik ke atas panggung setelah hujan reda.

Lagu-lagu yang dibawakan keduanya membuat banyak penonton ikut bernyanyi bersama sambil menikmati udara sore yang terasa semakin sejuk.

Memasuki sore hari, atmosfer festival semakin hidup lewat penampilan para musisi yang silih berganti mengisi panggung utama. Penampil pembuka, Harra, sukses membangun energi penonton lewat lagu-lagu yang membuat audiens ikut bernyanyi bersama.

Antusiasme terus meningkat saat Idgitaf serta Adrian Khalif tampil. Banyak penonton tampak sudah menunggu penampilannya sejak awal acara dimulai.

Puncak euforia terasa saat The Adams tampil membawakan lagu-lagu penuh energi. Penampilan mereka dibuka dengan “Masa-Masa” dan ditutup lewat “Konservatif” yang langsung disambut riuh nyanyian para penonton.

Konsep Intimate yang Berbeda


Dalam wawancara terpisah, bassist The Adams, Nadhif, mengaku suasana festival kali ini terasa berbeda dibanding festival musik pada umumnya. “Dengan konsep penonton yang duduk dan suasana kebun raya, festival ini jadi lebih intimate. Jadi terasa lebih santai juga karena konsep festivalnya. Kalau festival ini dijadikan lagu, mungkin ‘Tender’ dari Blur,” ujarnya.

Konsep intimate tersebut juga dirasakan langsung oleh para penonton maupun komunitas penggemar yang hadir. “Saya senang sekali hari ini karena bisa menemani anak-anak saya nonton band kesukaannya dan saya jadi tahu band-band yang anak saya senangi. Saya ikut antusias dan ikut bernyanyi juga sih tadi, acaranya keren banget!” ujar Soni, 48 tahun, salah satu pengunjung festival.

Hal serupa juga diungkapkan Zio, 23 tahun, anggota Pelantur, komunitas penggemar The Adams. “Kali ini acaranya berbeda. Biasanya kami bisa loncat-loncat, bisa crowdsurf juga. Tapi karena ini intimate show, jadi agak challenge juga sih buat kami, soalnya lagu-lagu The Adams mostly hype energy,” katanya sambil tertawa.

GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |