Film Wuthering Heights Versi Emerald Fennell Hadir dengan Kisah yang Berbeda dari Novel

15 hours ago 6

CANTIKA.COM, Jakarta - Adaptasi terbaru Wuthering Heights garapan Emerald Fennell hadir memantik diskusi panjang, terutama bagi pembaca setia novel Wuthering Heights karya Emily Bronte. Tak menerjemahkan cerita secara sama, Fennell secara terbuka menyebut film ini sebagai versinya sendiri, sebuah interpretasi emosional atas pengalaman pribadinya saat membaca novel tersebut, di mana hasilnya film yang terasa lebih intens, provokatif, dan sangat berbeda dari kisah aslinya.

Sudut Pandang yang Diubah Total

Dalam novel, kisah Heathcliff dan Catherine disampaikan melalui sudut pandang Nelly Dean, pengasuh keluarga Earnshaw, dengan struktur cerita berlapis dan kilas balik yang panjang. Dalam penggarapannya Fennell menghapus pendekatan tersebut dan memilih penceritaan yang lebih langsung, emosional, dan subjektif. Dampaknya, kompleksitas moral dan jarak naratif khas novel menjadi jauh lebih tipis.

Novel Wuthering Heights dibuka saat Catherine sudah meninggal dan Heathcliff berada di usia dewasa, kamudian bergerak mundur melalui ingatan dan cerita. Lalu yang hadir dalam film adalah pembuka baru yang bersifat simbolik dan kontroversial, sepenuhnya merupakan rekaan sineas yang tidak ditemukan dalam tulisan asli Bronte.

Kemudian dalam film, latar keluarga Catherine dibuat lebih ringkas dan tragis. Beberapa tokoh penting di novel, seperti Hindley Earnshaw dan perannya dalam konflik panjang generasi, diubah atau dipangkas drastis. Di novel, Hindley hidup hingga dewasa, menikah, dan memiliki anak yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita lanjutan namun di film lapisan ini dihilangkan dan menyederhanakan konflik keluarga.

Hal Lain yang Diubah

Novel Bronte dikenal menahan diri dalam menggambarkan relasi fisik. Ketegangan antara cinta, obsesi, dan kebencian lebih banyak disampaikan lewat dialog dan emosi tersirat dan Fennell memilih pendekatan sebaliknya, dengan menonjolkan relasi Cathy dan Heathcliff secara lebih terbuka dan intens, sebagai cara mengekspresikan obsesi yang destruktif.

Kemudian, jika dalam novel Nelly Dean cenderung menjadi pengamat yang ambigu dan kadang pasif, versi film menggambarkannya sebagai sosok yang lebih aktif dan emosional. Beberapa keputusan penting yang di novel terjadi karena kebetulan, dalam film justru dipicu oleh tindakan sadar Nelly, sehingga mengubah dinamika konflik secara signifikan.

Dalam novel, Isabella adalah korban kekerasan emosional dan fisik Heathcliff yang akhirnya melarikan diri namun di film karakter ini diberi ruang lebih besar, dengan respons dan pilihan yang jauh lebih berani, meski tetap berada dalam relasi yang toksik. Perubahan ini juga menggeser makna penderitaan Isabella dari pasif menjadi lebih konfrontatif.

Simbolisme Gelap yang Tidak Ada di Buku

Film menambahkan berbagai simbol visual yang ekstrem dan provokatif, termasuk benda-benda personal yang diberi makna obsesif. Elemen-elemen ini sepenuhnya merupakan kreasi baru dan tidak pernah muncul dalam novel, yang justru lebih menekankan simbol alam, rumah, dan lanskap sebagai cerminan batin karakter.

Salah satu perbedaan paling mencolok dari filmnya adalah keputusan untuk mengakhiri cerita pada kematian Catherine. Novel Bronte justru mendedikasikan hampir separuh kisahnya pada generasi kedua, yang berfungsi sebagai refleksi, penebusan, dan penutup siklus dendam.

Ramai dibicarakan dan memantik diskusi, versi film Wuthering Heights karya Emerald Fennell bukan adaptasi literal, melainkan interpretasi emosional yang menukar kompleksitas struktur novel dengan intensitas perasaan. Bagi penonton baru, film ini berdiri sebagai drama gothic modern namun bagi pembaca setia Emily Bronte, perbedaannya begitu besar hingga terasa seperti dua cerita dengan jiwa yang sama sekali berbeda.

Pilihan Editor: Deretan Trailer Film Paling Disorot di Super Bowl LX 2026 dari Scream 7 hingga Project Hail Mary

ENEWS

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |