WARGA pesisir yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Miskin Semarang Demak atau ARMSD memandang pemerintah perlu menggandeng warga yang tinggal di pesisir dan terdampak langsung dalam proyek giant sea wall. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berencana membangun tanggul laut di pesisir utara Pulau Jawa mulai Banten hingga Jawa Timur.
Kelompok ARMSD juga setuju dengan rencana Prabowo mengajak para guru besar bekerja sama dalam pembangunan tembok laut raksasa itu, seperti yang pernah diungkap Prabowo pada April lalu. Menurut Koordinator ARMSD, Ahmad Marzuki, keterlibatan akademisi seperti dosen dan guru besar penting.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Tetapi dari sudut pandang kami, akademisi yang dibutuhkan adalah akademisi yang membawa aspirasi kepentingan rakyat, atau pro-rakyat di pesisir," kata Ahmad pada Jumat, 19 Juni 2026.
Prabowo menyampaikan ajakannya itu dalam rapat kabinet terbatas di Istana Merdeka pada 20 April 2026. Arahan diberikannya kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, meminta kontribusi riset dan inovasi dari perguruan tinggi untuk percepatan dan efisiensi megaproyek tersebut.
Sebagai tindak lanjut, Brian menyampaikan segera mengundang para guru besar dan pakar yang memiliki keahlian di bidang terkait, termasuk dalam pengembangan daratan dan reklamasi. Brian menyampaikan para akademisi tersebut nantinya tidak hanya memberikan kajian teknis, tetapi juga akan terlibat langsung dalam tim pelaksana yang dipimpin oleh Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BPPOJ).
Sementara itu, Ahmad juga mengingatkan jangan ada penumpang gelap dalam rencana pemerintah membangun giant sea wall. Menurut mereka, kerap ada kepentingan lain di balik proyek pemerintah yang mengatasnamakan kebutuhan warga. "Dalam giant sea wall, kepentingan para pemodal itu tampak sangat telanjang dalam kawasan-kawasan industri di Pantura serta tanah-tanah reklamasi," ujarnya.
Sepanjang jalur nasional tersebut memang menjamur kawasan Industri seperti di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Lahan-lahan yang semula laut juga telah menjadi daratan karena reklamasi dan kini menjadi kompleks perumahan dan perbelanjaan modern.
Sebaliknya, wilayah lain yang sebelumnya lahan permukiman dan pertanian hilang tenggelam karena abrasi. Seperti di Timbulsloko Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang menjadi perkampungan di atas air laut karena daratannya tenggelam. Warga yang bertahan tinggal di rumah berlantai gladak papan.

















































