BADAN Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) menggandeng ASEAN Institute for Disaster Health Management yang berkedudukan di Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperkuat kapasitas penanganan kesehatan bencana di negara-negara Asia Tenggara. Kerja sama yang akan berlangsung hingga Februari 2030 itu menjadi bagian dari program teknis Jepang dan ASEAN dalam memperkuat kesiapsiagaan kawasan menghadapi bencana. Kerja sama ini harapannya bisa memperkuat mekanisme pengembangan kapasitas regional di bidang manajemen kesehatan bencana di kawasan ASEAN.
Kerja sama ini dimulai dengan penandatanganan Record of Discussion oleh Kepala Kantor Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko, dan Kepala AIDHM Yodi Mahendradhata, sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada , 30 Juni 2026. bertempat di FKKMK UGM. Penandatangan dihadiri langsung oleh AIDHM, UGM, dan JICA Indonesia, sementara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan perwakilan dari Kantor Pusat JICA mengikuti secara daring.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Yodi Mahendradhata menyampaikan apresiasi atas kemitraan jangka panjang dan komitmen JICA dalam memajukan manajemen kesehatan bencana di ASEAN. Menurutnya, penandatanganan hari ini menandai pencapaian penting yang dibangun atas keberhasilan luar biasa Proyek ARCH tahap awal. Program itu berhasil meningkatkan koordinasi kawasan serta kapasitas Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team/EMT). "Fondasi yang kuat ini memungkinkan pembentukan ASEAN Institute for Disaster Health Management sebagai institusi kawasan yang berkelanjutan," katanya dalam keterangan pers awal Juli 2026.
Yodi pun mendorong pertumbuhan ASEAN Academic Network on Disaster Health Management."Sehingga kerja sama kita dapat dilembagakan melalui penelitian, pendidikan, dan pertukaran pengetahuan yang sangat penting,” ujar Yodi.
Yodi pun menegaskan komitmen tim Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dalam menjalin kerja sama yang erat dengan JICA, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan para mitra regional lainnya.
Kepala Kantor Perwakilan JICA Indonesia Takeda Sachiko mengatakan kerja sama selama sepuluh tahun terakhir telah menghasilkan sejumlah mekanisme koordinasi regional, termasuk pembentukan forum koordinasi penanganan kesehatan bencana di ASEAN, penyusunan prosedur operasi standar bersama, serta latihan penanganan bencana lintas negara.
"Pada fase kedua yang berlangsung sejak 2022 hingga 2026, kerja sama difokuskan pada penguatan sistem kolaborasi regional, integrasi sistem penanganan kesehatan bencana ke tingkat nasional dan daerah, serta pengembangan manajemen pengetahuan. Salah satu hasil paling penting adalah berdirinya ASEAN Institute for Disaster Health Management di Universitas Gadjah Mada," ujar Takeda.
Dalam proyek terbaru ini, JICA dan UGM akan melanjutkan berbagai capaian yang telah dibangun selama satu dekade sekaligus memperkuat posisi lembaga tersebut sebagai pusat pengetahuan regional mengenai penanganan kesehatan bencana. Program ini dijadwalkan berlangsung selama tiga setengah tahun dengan kegiatan yang dipusatkan di Yogyakarta dan dilaksanakan bersama negara-negara anggota ASEAN.
Rania Felita Salsabila berkontribusi dalam artikel ini.
















































