Kejar Musim Tanam Sebelum Agustus, Aceh Pulihkan 641 Unit Irigasi

3 hours ago 2

INFO TEMPO – Dalam upaya mempercepat pemulihan sawah terdampak banjir, Pemerintah Provinsi Aceh juga memprioritaskan perbaikan infrastruktur pendukung, terutama jaringan irigasi. Sistem pengairan dinilai menjadi faktor penting agar lahan pertanian dapat kembali ditanami sebelum Agustus mendatang.

Saat rapat koordinasi Satgas Penanggulangan Risiko Bencana (PRR) Nasional yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir pada 30 April lalu, disebutkan alokasi anggaran rehabilitasi jaringan irigasi di Aceh mencapai Rp 147,47 miliar.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menyampaikan, realisasi anggaran program irigasi hingga 6 Mei 2026 mencapai Rp 15,04 miliar atau 10,2 persen dari total pagu tersebut. Proyek terbesar yakni pembangunan 641 unit irigasi perpompaan di 16 kabupaten/kota dengan total anggaran Rp 98,07 miliar.

Saat ini, baru sekitar 70 unit yang memasuki tahap pekerjaan fisik atau sekitar 3,49 persen. Sebagian besar proyek masih berada pada tahap penetapan calon petani calon lokasi (CPCL), penyusunan dokumen rancang bangun, serta pemberkasan kelompok tani.

Kendati begitu, pembangunan irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota juga mulai berjalan. Dari target 149 unit dengan anggaran Rp 14 miliar, progres pekerjaan tercatat sekitar 24 persen. Pekerjaan paling banyak berlangsung di Aceh Timur dan Aceh Tengah.

Pemerintah Aceh juga menyiapkan pembangunan 45 unit bangunan konservasi di lima kabupaten, yakni Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Aceh Selatan, dan Simeulue. Program senilai Rp 5,4 miliar itu saat ini masih berada pada tahap penetapan CPCL.

Sementara itu, pembangunan jaringan irigasi tersier di 13 kabupaten/kota baru mencapai sekitar 8 persen dari target 300 unit dengan total anggaran Rp 30 miliar. Pekerjaan fisik baru berjalan di sebagian titik di Aceh Besar dan Aceh Utara.

Selain jaringan pengairan, pemerintah juga mulai membangun jalan usaha tani (JUT) untuk mendukung distribusi hasil panen. Dari target 106 unit dengan anggaran Rp 11,66 miliar, baru sekitar delapan unit yang memasuki tahap pekerjaan fisik di Aceh Timur.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kasatgas PRR Tito Karnavian mengingatkan irigasi terkait erat dengan sumber air. Karena itu, normalisasi sungai dinilai penting untuk memastikan area persawahan kembali subur. “Penanganannya mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan tambak milik warga,” ujar Tito pada 25 Maret silam.

Pemulihan di Aceh, Tito melanjutkan, bukan sekadar perbaikan jalan, jembatan, dan rumah. “Variabel yang kita lihat bukan hanya pengungsi, tapi juga sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya. Semua itu menjadi bagian dari pemulihan,” kata dia. (*)

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |