INFO TEMPO - Kementerian Transmigrasi memperkenalkan paradigma baru pembangunan kawasan transmigrasi dengan menyatukan kekuatan perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat transmigrasi. Melalui kolaborasi tersebut, kawasan transmigrasi diproyeksikan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang ditopang inovasi, investasi, serta akses pasar yang terintegrasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pembangunan transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan lahan dan permukiman. Akan tetapi, saat ini yang dibangun adalah ekosistem ekonomi yang menghubungkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dan pasar.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Untuk sampai pada cita-cita tersebut, kata Iftitah, Kementerian Transmigrasi berfokus melengkapi tiga aspek, yakni ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, permodalan melalui investasi dunia usaha, serta akses pasar atau offtaker yang dibangun bersama pelaku usaha.
“Kalau tiga kekurangan ini bisa kami lengkapi, maka lahan dan para transmigran akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Menteri Iftitah pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut dia, kolaborasi tersebut menjadi fondasi transformasi transmigrasi. Sepuluh perguruan tinggi mitra diterjunkan melalui Program Transmigrasi Patriot untuk melakukan riset, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menyusun feasibility study yang dapat ditawarkan kepada calon investor.
“Kami melibatkan sepuluh kampus mitra agar kawasan transmigrasi menjadi laboratorium hidup. Dari sanalah lahir inovasi, teknologi, dan berbagai solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Hasil riset tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan proyek-proyek investasi yang siap ditawarkan kepada dunia usaha, sehingga setiap kawasan memiliki arah pengembangan yang jelas dan berbasis potensi unggulannya.
“Inilah cara kami membangun transmigrasi baru: kampus menghadirkan ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa investasi dan pasar, sementara masyarakat transmigrasi menjadi pelaku utama pembangunan,” katanya.
Menteri Iftitah menegaskan, pendekatan baru transmigrasi tidak lagi berhenti pada pembagian lahan atau bantuan produksi. Seluruh rantai nilai ekonomi dibangun secara terpadu, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, masuknya investasi, hingga tersedianya kepastian pasar.
Sebagai contoh, Kementerian Transmigrasi telah membuka akses ekspor durian dari kawasan transmigrasi di Parigi Moutong ke pasar Tiongkok. Langkah tersebut meningkatkan harga yang diterima petani secara signifikan.
“Sekarang kami membuka akses offtaker sampai ke Tiongkok. Dampaknya, harga durian yang diterima petani meningkat lima hingga enam kali lipat,” katanya.
Selain memperkuat akses pasar, Kementerian Transmigrasi juga mengembangkan setiap kawasan sesuai potensi unggulannya, baik di sektor industri, pariwisata, energi, pertanian, maupun sektor strategis lainnya. Seluruh pengembangan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan investasi agar mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat transmigrasi maupun masyarakat lokal. (*)
















































