PULAU sampah yang terbentuk di Muara Angke menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak berhenti di tempat pembuangan, tetapi berdampak luas sampai ke lingkungan perairan. Seperti yang ditemukan di Muara Angke, sampah yang menumpuk di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai wilayah hulu.
Peneliti pencemaran dan toksikologi dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Etty Riani, menjelaskan bahwa persoalan sampah di Muara Angke tidak dapat dipisahkan dari kondisi daerah aliran sungai (DAS) yang bermuara ke Teluk Jakarta. Karena itu, menurutnya, solusi harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Edukasi masyarakat perlu dilakukan secara konsisten, disertai penguatan sistem pengelolaan sampah, pengawasan lintas daerah, pengurangan plastik sekali pakai, pengembangan bank sampah, TPS 3R, Material Recovery Facility (MRF), daur ulang, RDF, hingga Waste to Energy yang memenuhi standar lingkungan. “Solusi paling penting adalah menghentikan aliran sampah dari sungai ke laut. Karena jika sumber tidak dihentikan, pembersihan di Muara Angke hanya akan bersifat sementara,” kata Etty melalui keterangan tertulis, Sabtu, 6 Juni 2026.
Sedangkan, ia menekankan, pemulihan ekosistem mangrove yang tercemar membutuhkan waktu panjang, bahkan bisa mencapai lebih dari 10 tahun untuk mengembalikan fungsi ekologisnya secara penuh. "Karena itu, pengelolaan terpadu terhadap perilaku masyarakat dan sampah yang dihasilkan menjadi kunci utama penyelesaian masalah secara berkelanjutan."
Dampak Pulau Sampah
Etty mengungkap temuannya bahwa sejumlah besar sampah plastik terjebak dalam sedimen mangrove. Jenis yang banyak ditemukan antara lain kantong plastik, botol plastik, kemasan makanan dan minuman, styrofoam, bekas jaring, serta sampah rumah tangga.
Petugas mengangkut sampah yang mengendap di perairan laut Jakarta, 3 Juni 2026. ANTARA/Sulthony Hasanuddin
Menurut Etty, keberadaan sampah plastik secara langsung mengganggu fungsi ekologis mangrove. Plastik yang bersifat kedap dapat menutupi pneumatofor atau akar napas mangrove sehingga menghambat pertukaran oksigen. Selain itu, plastik yang menutupi sedimen berpotensi mengubah karakteristik fisik, kimia, dan biologis sedimen serta menghambat regenerasi bibit mangrove.
Keberadaan sampah juga berdampak pada kualitas perairan. Sampah plastik dapat menurunkan kelarutan oksigen (DO), meningkatkan potensi terbentuknya gas beracun seperti amonia, HS, dan nitrit, serta meningkatkan kandungan mikroplastik, nanoplastik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3) di lingkungan perairan.
“Pulau sampah ini juga memiliki dampak langsung dan tidak langsung pada ikan dan burung yang sengaja mengkonsumsi plastik atau mikroplastik karena mengiranya sebagai makanan,” katanya.
Etty menambahkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik sangat berisiko masuk ke rantai makanan. Organisme penyaring seperti kerang dan tiram rentan mengakumulasi partikel tersebut dalam jumlah signifikan. Mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat, unsur radioaktif, dan senyawa organik persisten yang berbahaya bagi ekosistem.















































