PROGRAM Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal (Kanyaah) turut mengantarkan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. atau PGE Area Kamojang mendapatkan penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dari Kementerian Lingkungan Hidup. Program itu memanfaatkan langsung uap panas bumi yang belum dimanfaatkan menjadi penggerak ekonomi sirkular masyarakat sekitar.
General Manager PGE Area Kamojang I Made Budi Kesuma Adi Putra mengatakan program itu membangun sistem saling terhubung sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi. “Kamojang tidak hanya berperan sebagai penghasil energi bersih, tetapi juga berkembang sebagai sarana pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan energi panas bumi sebagai potensi alam setempat,” katanya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 9 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penghargaan Proper yang diraih PGE Area Kamojang merupakan yang ke-15 secara berturut-turut. Penghargaan tersebut telah diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup pada Selasa, 7 April 2026.
Pertamina mengembangkan Geothermal Fishery melalui pemanas kolam berbasis panas bumi. Teknologi itu mampu mempercepat masa panen hingga 25 persen serta menaikkan bobot ikan dari rata-rata 200 gram menjadi 330 gram per ekor.
Di sektor pertanian terdapat Geothermal Organic Fertilizer yang telah menghasilkan 193,8 ton pupuk ramah lingkungan. Pupuk itu dimanfaatkan untuk lahan pertanian seluas 12,34 hektare.
Ada juga Geothermal Farming untuk mendukung proses pembibitan dan budidaya tanaman holtikultura agar lebih efisien dan produktif. Pendekatan dengan memanfaatkan panas bumi ini meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Lalu ada Geothermal Food yang mendorong pengolahan hasil pascapanen agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Inisiatif ini memperpanjang rantai manfaat selain pertanian dan membuka peluang usaha baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. “Kami memastikan pengelolaan energi hijau tidak hanya mendukung ketahanan energi masa depan, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat melalui penguatan ekonomi lokal,” tutur I Made Budi Kesuma Adi Putra.
Program Kanyaah telah menjangkau 4.397 orang dengan total penghasilan masyarakat mencapai Rp 3,08 miliar, serta nilai social return on investment (SROI) sebesar 5,10 kali. Kanyaah juga diklaim berkontribusi mengurangi emisi sebesar 146,28 ton karbon ekuivalen per tahun, serta pengurangan sampah organik sebanyak 232 ton per tahun.
“Kami berharap Kamojang dapat terus menjadi contoh bagaimana pengelolaan panas bumi berjalan selaras antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Budi.
Di Kamojang, eksplorasi panas bumi dimulai sejak 1926 dan dilanjutkan oleh Pertamina pada 1974. Kemudian operasi komersial dimulai melalui PLTP Kamojang pada 1983. Pengelolaan Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang berada di bawah PT Pertamina Geothermal Energy dengan 5 unit PLTP dengan kapasitas 235 megawatt dari keseluruhan 727 megawatt kapasitas terpasang.

















































