Penelitian 25 Tahun Ungkap Misteri Anjing Hantu Amazon

9 hours ago 4

SEBUAH penelitian selama lebih dari dua dekade berhasil mengungkap berbagai fakta baru mengenai anjing bertelinga pendek (short-eared dog), satwa liar yang dijuluki “anjing hantu” karena sangat jarang terlihat di habitat aslinya di hutan hujan Amazon.

Studi tersebut menunjukkan spesies ini ternyata lebih melimpah daripada yang selama ini diperkirakan, meski tetap sulit ditemukan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation itu dilakukan menggunakan kamera jebak yang dipasang di 34 lokasi hutan dan dataran banjir di Bolivia utara serta sebagian Peru tenggara sepanjang 2001 hingga 2024. Dari survei tersebut, peneliti memperoleh 4.635 foto yang kemudian diidentifikasi menjadi 594 penampakan terpisah, menjadikannya kumpulan data terbesar mengenai spesies tersebut di satu kawasan.

Menariknya, sebagian besar kamera jebak tersebut sebenarnya dipasang untuk memantau jaguar dan ocelot. Kamera-kamera itu diberi umpan berupa parfum seperti Chanel No. 5 dan Calvin Klein Obsession yang lazim digunakan untuk menarik perhatian kucing liar. Namun, anjing bertelinga pendek justru berkali-kali terekam secara tidak sengaja.

“Penelitian ini merupakan contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jarak jauh,” ujar penulis utama studi dari Wildlife Conservation Society, Robert Wallace, dikutip dari laporan Earth, 23 Juli 2026. “Dalam hal ini penggunaan kamera jebak secara intensif, dapat menyediakan data yang sangat besar mengenai salah satu spesies yang paling sedikit diketahui di hutan hujan Amazon.”

Temuan penelitian juga menunjukkan populasi anjing bertelinga pendek kemungkinan lebih besar daripada perkiraan sebelumnya. Berdasarkan perbandingan dengan tingkat kemunculan ocelot dalam kamera jebak, peneliti memperkirakan kepadatan spesies tersebut mencapai sekitar 15 individu di setiap area hutan seluas 39 mil persegi atau sekitar 100 kilometer persegi.

“Aspek yang paling mengejutkan dari hasil penelitian ini adalah bahwa meskipun anjing bertelinga pendek hampir dianggap sebagai makhluk mitos, populasinya ternyata jauh lebih melimpah daripada yang kami bayangkan,” kata Wallace.

Meski demikian, peneliti menegaskan satwa tersebut tetap tergolong sulit dijumpai. Anjing bertelinga pendek hanya muncul pada 21 dari 34 survei, sementara di lebih dari separuh lokasi kamera tidak merekam keberadaannya sama sekali. Tingkat kemunculannya juga hanya sekitar seperempat dibandingkan ocelot.

Selain itu, kamera jebak mengungkap pola perilaku yang sebelumnya belum banyak diketahui. Sekitar tujuh dari sepuluh penampakan terjadi pada siang hari, terutama sekitar pukul 06.00 hingga tengah hari, menunjukkan spesies ini lebih aktif pada pagi hingga siang hari dibandingkan malam hari.

Penelitian juga menemukan bahwa anjing bertelinga pendek hampir seluruhnya bergantung pada hutan yang masih utuh. Satwa ini paling sering terekam di taman nasional dan wilayah adat yang berhimpitan dengan kawasan lindung, sedangkan hampir tidak pernah ditemukan di hutan yang telah terfragmentasi atau tidak dilindungi.

Menurut Wallace, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan anjing bertelinga pendek dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem Amazon. “Strategi pengelolaan yang paling penting adalah melindungi tutupan kanopi hutan Amazon, di mana pembentukan dan pengelolaan kawasan lindung secara efektif menjadi unsur utama, dikombinasikan dengan pengelolaan berkelanjutan wilayah adat,” ucapnya.

Para peneliti menilai temuan ini memberikan harapan bagi upaya konservasi. Selama tutupan hutan Amazon tetap terjaga melalui kawasan lindung dan pengelolaan wilayah adat yang berkelanjutan, spesies yang selama ini dijuluki “anjing hantu” itu masih memiliki peluang untuk terus bertahan di alam liar.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |