BENTROKAN terjadi antara warga Desa Sibenpopo dan Desa Bobane Jaya di Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara, pada Jumat, 3 April 2026. Kapolda Maluku Utara Inspektur Jenderal Waris Agono menyatakan, situasi di lokasi konflik kini berangsur membaik. “Saya jamin situasi di Desa Sibenpopo saat ini sudah kembali aman,” kata Waris dalam keterangan tertulisnya.
Waris mengungkapkan, peristiwa tersebut kemungkinan besar dipicu oleh provokasi dan penyebaran berita palsu. “Ini bukan konflik SARA. Ada indikasi kejadian ini dipengaruhi provokasi,” ujar Waris, seperti dikutip dari Antara.
Menurut Waris, tim penyidik masih menyelidiki kasus tersebut, termasuk menggali keterangan dari korban selamat. Kepolisian juga mendalami indikasi provokasi yang berpotensi memperkeruh situasi di wilayah tersebut.
Waris menegaskan, hingga saat ini polisi belum menemukan bukti yang menunjukkan keterlibatan kelompok masyarakat tertentu di balik insiden tersebut. “Kami tegaskan, belum ada petunjuk yang mengarah ke sana,” ujarnya pada Selasa, 7 April 2026.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, konflik tersebut diduga dipicu oleh kematian salah satu warga desa. “Konflik antarwarga dipicu kasus dugaan pembunuhan seorang warga di Desa Bobane Jaya,” kata Trunoyudo, seperti dikutip dari Antara.
Trunoyudo menjelaskan, peristiwa itu kemudian berkembang menjadi aksi saling serang antara warga Desa Bobane Jaya dan Desa Sibenpopo. Insiden tersebut menimbulkan korban jiwa, pembakaran rumah warga, fasilitas umum, serta satu unit tempat ibadah.
Menurut Trunoyudo, polisi bersama pemerintah daerah setempat telah mengambil langkah cepat untuk menetralkan situasi. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, tidak terpengaruh isu hoaks maupun provokasi yang dapat memperkeruh keadaan,” ujarnya.
Baca juga: Konflik Berulang Antara Masyarakat Adat dan PT Toba Pulp Lestari


















































