RI-Malaysia Perkuat Kerja Sama Perlindungan Warga Negara

8 hours ago 3

PEMERINTAH Indonesia dan Malaysia sepakat memperkuat koordinasi untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor sekaligus menyelesaikan sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama. Kesepakatan itu mengemuka dalam pertemuan ke-17 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia-Malaysia yang digelar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan hubungan Indonesia dan Malaysia tidak sekadar hubungan bilateral antarnegara. Menurut dia, kedua negara memiliki kedekatan historis dan sosial yang kuat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Indonesia dan Malaysia berbagi DNA, berbagi budaya, berbagi bahasa, perbatasan, dan banyak hal lainnya,” kata Sugiono dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan.

Sugiono menyebut pertemuan JCBC menjadi forum yang penting dan strategis untuk mengoptimalkan potensi kedua negara demi kesejahteraan masyarakat masing-masing.

“Pertemuan ini membahas banyak hal penting dalam rangka meningkatkan hubungan ekonomi yang baik, stabilitas kawasan, perlindungan warga negara, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan posisi strategis Indonesia-Malaysia dalam konteks hubungan internasional yang lebih luas,” ujarnya.

Fokus pada Ekonomi dan Stabilitas Kawasan

Selain memperkuat koordinasi di berbagai bidang, kedua menteri juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bersama. Mereka turut menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan berpartisipasi dalam upaya perdamaian.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Malaysia menyatakan JCBC ke-17 akan memprioritaskan penguatan kerja sama ekonomi Indonesia-Malaysia serta meningkatkan ketahanan ekonomi kedua negara di tengah gangguan rantai pasok global yang terus berkembang.

Persiapan Konsultasi Tahunan RI-Malaysia

Dalam kesempatan yang sama, Mohamad Hasan menyampaikan apresiasinya kepada Sugiono atas penyelenggaraan JCBC ke-17. Pertemuan serupa terakhir kali digelar pada 2018.

“Pembahasan ini merupakan pembahasan antara teman untuk mencari titik temu dalam menyelesaikan simpul-simpul yang ada,” kata Mohamad.

Menurut dia, sebagai negara bertetangga dan serumpun, munculnya berbagai persoalan dalam hubungan bilateral merupakan hal yang wajar. Namun, ia menilai hubungan Indonesia dan Malaysia secara umum berada dalam kondisi sangat baik.

Mohamad menggambarkan hubungan kedua negara mencapai 98 persen, sedangkan 2 persen sisanya merupakan berbagai persoalan yang masih perlu diselesaikan.

Ia juga berharap perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN dapat terus ditingkatkan. “Kami banyak berdagang dengan negara-negara di luar ASEAN. Perdagangan intra-ASEAN belum mencapai 25 persen. Bagaimana kita meningkatkan perdagangan dan investasi antarnegara ASEAN,” ujarnya.

Menurut Mohamad, hasil JCBC ke-17 akan menjadi landasan menuju Pertemuan Konsultasi Tahunan Indonesia-Malaysia yang akan digelar di Malaysia tahun ini. Ia memperkirakan pertemuan antara Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Prabowo Subianto akan berlangsung antara Oktober hingga akhir 2026.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |