Sejumlah Kampus Kembangkan Platform Skrining TBC Berbasis AI

3 hours ago 5

SEJUMLAH peneliti kampus lintas negara berkolaborasi untuk riset dan mengembangkan aplikasi akal imitasi (AI) dalam penanganan penyakit tuberkulosis (TBC). Riset multidisiplin untuk pengembangan platform TBScreen.AI itu digerakkan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Monash University Indonesia. 

Riset kolaborasi yang diberi tajuk "TBScreen.AI: Pengembangan Kecerdasan Buatan untuk Skrining Tuberkulosis dengan X-ray Dada" itu akan menjadi dasar untuk mengembangkan perangkat lunak computer-aided detection (CAD). 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebagai langkah awal, kolaborasi itu memulai pengumpulan data yang menyasar komunitas rentan seperti disabilitas dan lanjut usia di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten, Jawa Tengah,  pada Kamis, 21 Mei 2026. Agenda tersebut menyasar sekitar 40 hingga 50 partisipan, termasuk para penyandang skoliosis, cedera tulang belakang, hingga cerebral palsy (lumpuh otak). 

"Dari riset ini nanti yang diharapkan ada kebaruan data dalam platform TBScreen.AI yang sedang dikembangkan," kata dosen Departemen Penyakit Dalam sekaligus peneliti utama dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Antonia Morita Iswari Saktiawati, Kamis.

Kebaruan utama dari TBScreen.AI yang dimaksud terletak pada pengembangan sistem AI yang sensitif terhadap keberagaman populasi di Indonesia, seperti berfokus pada kemudahan akses bagi kelompok rentan seperti difabel.

Berbeda dengan platform sejenis yang diadopsi secara global, AI ini dirancang dengan memasukkan variabel gender, usia, ras, letak geografis, hingga kondisi fisik disabilitas. Upaya ini dilakukan guna meminimalkan risiko bias sistem, mengingat teknologi AI memerlukan pasokan data yang representatif agar dapat menghasilkan diagnosis yang akurat.

Selain menjalani pemeriksaan X-ray dada gratis untuk mendeteksi TBC, para peserta dalam riset itu juga diwawancarai guna memetakan berbagai kendala fisik maupun sosial yang kerap mereka hadapi saat mengakses fasilitas kesehatan resmi. "Data medis dan sosial yang dihimpun dari lapangan tersebut nantinya akan menjadi basis utama untuk melatih algoritma AI agar semakin inklusif," kata dia.

Inovasi teknologi ini didesain secara khusus agar ramah terhadap konteks lokal yang inklusif, dengan memberikan perhatian penuh pada kelompok penyandang disabilitas. "Dari platform digital ini nanti masyarakat luas cukup mengunggah hasil rontgen dada ke platform digital untuk langsung memperoleh informasi mengenai probabilitas indikasi tuberkulosis," kata dia.

Morita mengatakan penelitian tersebut juga secara khusus dirancang untuk membantu kelompok-kelompok yang selama ini kurang terjangkau layanan kesehatan. "Kami berharap dengan riset mendalam ini hasil penelitian dapat untuk pengembangan platform yang mendeteksi TB lebih dini dan akurat," kata dia. "Sekaligus memperluas akses skrining bagi masyarakat yang selama ini sulit terjangkau layanan kesehatan, serta menekan penularan dan angka kematian akibat tuberkulosis."

Adapun peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), Ari Natalia Probandari, dalam kesempatan itu memberikan sosialisasi mendalam mengenai karakteristik penyakit, gejala klinis, pola penularan, hingga penanganan medis TBC. Edukasi ini untuk memotong mata rantai penularan sekaligus mengikis stigma sosial yang masih melekat kuat pada pasien TBC.

"Perlu mendongkrak pemahaman publik mengenai penanggulangan tuberkulosis dari hulu ke hilir. Dengan meningkatnya kesadaran ini, masyarakat lebih proaktif melakukan deteksi dini secara mandiri, yang pada akhirnya akan membantu memulihkan posisi sosial para penderita dari pengucilan," kata dia.

Tidak bergerak sendiri, para peneliti itu juga menggandeng masyarakat sipil dan swasta, seperti Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), serta Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP). Kemitraan berskala internasional itu juga turut diinisiasi KONEKSI, bagian dari program kerja sama antara Indonesia dan Australia.

Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) Qoriek Asmarawati menilai pelibatan aktif komunitasnya memberikan dimensi baru dalam pemenuhan hak-hak kesehatan penyandang disabilitas di daerah.

"Riset ke lapangan ini membuka ruang bagi kami untuk berkontribusi dalam penelitian yang berdampak langsung pada komunitas, sekaligus mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas," kata dia.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |