Bank Dunia Ungkap Cara Hindari Dampak Tarif AS ke RI

5 hours ago 4

BANK Dunia menilai dampak kebijakan global Amerika Serikat (AS), termasuk tarif dagang, terhadap kinerja ekspor Indonesia relatif terbatas. Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo mengatakan total tarif yang dihadapi Indonesia saat ini masih di bawah 20 persen.

Angka itu dinilai sebanding dengan Vietnam, meski sedikit lebih tinggi dibanding Malaysia dan Thailand. “Ketika dihitung melalui model, dampak (tarif AS) terhadap pendapatan riil Indonesia hanya sekitar 0,2 persen, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif signifikan terhadap PDB,” kata dia, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 8 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menjelaskan kajian World Bank atau Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 menunjukkan efek negatif tarif dagang Amerika dapat ditekan melalui reformasi kebijakan perdagangan dalam negeri. Indonesia disebut masih menerapkan banyak hambatan non-tarif, seperti aturan impor bahan baku dan standar teknis yang ketat.

“Jika Indonesia melakukan reformasi untuk mengurangi hambatan non-tarif pada barang dan jasa, keuntungan dari reformasi tersebut akan jauh lebih besar dibandingkan biaya akibat tarif AS. Dengan begitu, dampak negatif tarif bisa terhapus,” kata Mattoo.

Ia menekankan melalui kebijakan dalam negeri, Indonesia dapat menjadikan tarif Trump sebagai small change karena manfaat reformasi domestik akan jauh melampaui biaya dari kebijakan tarif tersebut.

Sebelumnya, pada 19 Februari 2026, Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati perjanjian perdagangan resiprokal dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington, DC. Kesepakatan tersebut tertuang dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah resmi ditandatangani oleh kedua kepala negara.

Secara umum, AS menerapkan rata-rata tarif sebesar 19 persen untuk produk asal Indonesia. Namun, pemerintah Amerika memberikan pengecualian khusus untuk produk-produk tertentu yang telah diidentifikasi menerima tarif 0 persen. Sebagai timbal balik, Indonesia menghapus pungutan tarif atas 99 persen produk asal AS.

Laporan World Bank mencatat tarif resiprokal tersebut kemudian digantikan dengan tarif global sebesar 10 persen yang diberlakukan berdasarkan Section 122 Trade Act of 1974. Tarif ini bersifat sementara dan berlaku hingga Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$ 282,91 miliar atau meningkat 6,15 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas mencapai US$ 269,84 miliar atau naik 7,66 persen.

Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai US$ 30,96 miliar setelah Cina yang mencapai US$ 64,82 miliar. Ekspor nonmigas ke AS tercatat sebesar US$ 4.420,2 juta, naik 16,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, nilai impor Indonesia pada periode Januari–Desember 2025 mencapai US$ 241,86 miliar, meningkat 2,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Impor nonmigas juga naik 5,11 persen menjadi US$ 209,09 miliar. Amerika Serikat menempati posisi ketiga sebagai negara pemasok barang impor dengan nilai US$ 9,84 miliar atau 4,70 persen dari total impor.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |