Begini Imbas Konflik Timur Tengah ke Industri Percetakan

7 hours ago 6

SITUASI geopolitik dunia yang masih tak menentu turut memberikan tekanan bagi industri percetakan di Tanah Air. Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Mughira Nurhani menuturkan situasi geopolitik global saat ini turut mengganggu stabilitas distribusi material cetak di dalam negeri. 

Menurut dia, konflik internasional yang tak kunjung mereda memicu lonjakan biaya logistik dan harga bahan bakar kapal, yang pada akhirnya membebani harga jual kertas di tingkat konsumen.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Meskipun Indonesia mampu memproduksi sekitar 70 persen kebutuhan kertas lokal, industri ini masih memiliki ketergantungan impor bubur kertas (pulp) jenis serat panjang," kata Mughira ditemui di sela Jogja Printing Expo 2026 di Jogja Expo Center (JEC) Yogyakarta pada Rabu, 8 April 2026.

Ia membeberkan, bahan baku ini hanya dihasilkan oleh negara-negara dengan empat musim seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Finlandia. Jadi, ketika jalur perdagangan global terganggu oleh situasi politik, pasokan serat panjang bisa ikut terhambat. Padahal material ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas cetakan. 

Mughira mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga sudah terjadi sejak awal tahun dan sulit untuk kembali normal. "Kertas itu sudah naik, dari awal tahun sudah naik karena kertas memang tidak pernah turun," ujarnya. Selain masalah impor serat panjang, rantai pasok kertas daur ulang atau kertas cokelat juga mengalami kendala serius. 

Berbeda dengan negara seperti Jepang yang memiliki sistem lelang dan pengumpulan kertas bekas secara sistematis, menurut dia, Indonesia masih berjuang dengan regulasi pengelolaan sampah kertas yang belum tertata. Akibatnya, stok bahan baku daur ulang sering kali tidak mencukupi atau justru salah sasaran.

Fenomena penggunaan kertas dokumen bekas sebagai pembungkus makanan di pasar menjadi bukti belum optimalnya tata kelola ini yang juga mengancam kesehatan konsumen. Sebab ada kandungan zat kimia dalam tinta. Kerapuhan rantai pasok ini juga merambat ke sektor percetakan berbasis plastik. 

Karena biji plastik merupakan turunan dari minyak bumi, harganya menjadi sangat fluktuatif mengikuti dinamika pasar energi global yang terdampak konflik geopolitik. Tekanan ini dirasakan semakin berat mengingat industri grafika juga sedang beradaptasi dengan era digitalisasi yang mendorong efisiensi kertas. 

Namun begitu, ia bersyukur sektor pengemasan (packaging) masih bisa menjadi penyelamat. Mughira mencatat bahwa hampir seluruh produk manufaktur dan barang konsumsi tetap membutuhkan kemasan sebagai pelindung, sehingga permintaan di segmen ini masih terjaga.

Lebih jauh, PPGI berharap ada langkah strategis untuk memproteksi industri dalam negeri. Saat ini, dari total kapasitas produksi pabrik kertas dan pulp nasional yang mencapai 22 juta ton per tahun, mayoritas atau sebanyak 70 persen dialokasikan untuk pasar ekspor. 

Dengan tantangan musim cetak buku sekolah yang akan dimulai pada akhir April atau awal Mei, ketersediaan bahan baku untuk kebutuhan domestik harus menjadi prioritas. "Meski tertekan, industri ini masih bertahan karena hampir seluruh produk manufaktur dan barang konsumsi masih memerlukan pengemasan," kata Mughira.

Pihaknya juga mendorong kebijakan pemerintah agar setiap produk yang beredar di Indonesia wajib menggunakan kemasan hasil cetakan lokal untuk memperkuat posisi pelaku usaha domestik.

Sementara itu, Panitia Jogja Printing Expo (JPE) 2026 Daud Salim menuturkan dalam tantangan ekonomi global saat ini, pelaku industri diharapkan dapat terus beradaptasi dengan inovasi teknologi sekaligus membuka peluang kolaborasi baru dalam industri grafika. "Inovasi teknologi percetakan modern terus berkembang mencakup berbagai media. Tidak hanya kertas, namun mencakup pencetakan pada tekstil, akrilik, logam, kulit, hingga kayu," kata dia.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |