Cerita Margareta Astaman Berdayakan Petani Mikro Perempuan Melalui Java Fresh

1 hour ago 3

CANTIKA.COMJakarta - Di tengah melimpahnya hasil pertanian Indonesia, ada satu ironi yang selama bertahun-tahun mengusik pikiran Margareta Astaman. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen buah tropis terbesar di dunia, namun belum mampu menjadi pemain utama dalam ekspor buah segar global. Sementara itu, pasar domestik justru dibanjiri buah impor.

Kesenjangan itulah yang mendorong Margareta mendirikan Java Fresh pada 2014. Bukan sekadar perusahaan eksportir buah, Java Fresh hadir dengan misi yang lebih besar yakni memberdayakan petani kecil dan membuka peluang ekonomi bagi perempuan di pedesaan.

"Indonesia sebenarnya tidak kekurangan produksi. Yang kita hadapi adalah persoalan kualitas dan akses pasar," ujar Margareta di acara talkshow Founder Wirausaha Sosial oleh DBS Foundation, Selasa, 23 Juni 2026. 

Saat terjun langsung ke lapangan, ia menemukan bahwa sekitar 63 persen petani Indonesia merupakan petani kecil atau smallholder farmers dengan luas lahan kurang dari satu hektare. Sebagian besar hanya memiliki lahan antara 1.000 hingga 4.000 meter persegi dengan beragam jenis tanaman dalam satu kebun.

Kondisi tersebut membuat petani sulit mencapai skala ekonomi yang menguntungkan. Banyak yang akhirnya tidak dapat mengandalkan hasil kebun sebagai sumber penghasilan utama. Tak sedikit yang meninggalkan lahan mereka untuk bekerja sebagai buruh bangunan, pengemudi ojek, atau pekerjaan lain di kota.

Menurut Margareta, rendahnya kualitas hasil panen bukan disebabkan kurangnya potensi, melainkan minimnya insentif bagi petani untuk meningkatkan standar produksi.

Melalui Java Fresh, ia memilih masuk ke pasar ekspor yang memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi produk berkualitas. Namun langkah itu tidak berhenti pada aktivitas perdagangan semata.

Java Fresh membangun ekosistem pendampingan bagi petani mulai dari praktik budidaya, sistem pembayaran yang lebih adil, hingga membantu mereka memperoleh sertifikasi internasional. Tujuannya agar petani mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar dari hasil panen yang mereka produksi.

"Kami tidak bisa hanya fokus menjual produknya. Kami harus memperbaiki kondisi petaninya juga," kata Margareta.

Membuka Kesempatan bagi Perempuan Desa

Dalam perjalanan membangun rantai pasok ekspor, Margareta menemukan persoalan lain yang tak kalah penting. Jika laki-laki di desa masih memiliki kesempatan merantau ke kota untuk mencari pekerjaan, perempuan sering kali tidak memiliki pilihan yang sama.

Sebagian besar harus tetap tinggal di desa untuk mengurus rumah tangga dan keluarga. Keterbatasan lapangan pekerjaan membuat banyak perempuan muda akhirnya menikah di usia sangat muda karena tidak melihat adanya peluang lain. Melihat kondisi tersebut, Margareta menjadikan pemberdayaan perempuan sebagai bagian penting dari model bisnis Java Fresh.

Perusahaan sengaja membangun fasilitas packing house di wilayah pedesaan, seperti di Tasikmalaya dan Banyuwangi, bukan di pusat kota. Strategi ini memungkinkan perempuan desa bekerja tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Saat ini hampir seluruh tenaga kerja di fasilitas pengemasan Java Fresh merupakan perempuan. Banyak di antaranya belum pernah memiliki pengalaman kerja sebelumnya.

Untuk itu, perusahaan menyediakan pelatihan dan pendampingan agar mereka mampu memenuhi standar industri ekspor sekaligus memperoleh penghasilan yang lebih baik. "Kami ingin perempuan di desa memiliki kesempatan ekonomi tanpa harus meninggalkan keluarganya," tutur Margareta.

Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing

Selain pemberdayaan petani dan perempuan, Java Fresh juga berinvestasi pada inovasi teknologi pascapanen. Salah satu tantangan terbesar ekspor buah Indonesia adalah masa simpan produk yang relatif singkat.

Komoditas pertama yang menjadi fokus perusahaan adalah manggis. Dengan pengembangan teknologi penyimpanan, umur simpan manggis yang sebelumnya hanya sekitar tujuh hari berhasil diperpanjang hingga 45 hari.

Inovasi tersebut memungkinkan pengiriman menggunakan kontainer laut yang lebih ekonomis dibandingkan jalur udara. Dampaknya, biaya logistik menjadi lebih efisien dan pasar tujuan ekspor dapat diperluas.

Dalam proses pengembangannya, Java Fresh juga mendapatkan dukungan dari berbagai mitra, termasuk sektor perbankan, untuk memperkuat kapasitas teknologi dan menjangkau lebih banyak daerah penghasil buah.

Hasil kerja selama lebih dari satu dekade mulai menunjukkan dampaknya. Manggis yang dikumpulkan dari petani-petani di Tasikmalaya kini telah menembus lebih dari 25 negara.

Pasar terbesar Java Fresh berada di kawasan Eropa Barat, namun buah-buah Indonesia juga telah menjangkau berbagai negara lain yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan sebagai konsumen manggis.

Bagi Margareta, pencapaian tersebut bukan hanya soal angka ekspor. Yang lebih penting adalah semakin banyak petani kecil yang memperoleh penghasilan lebih baik dan semakin banyak perempuan desa yang memiliki kesempatan bekerja secara layak.

Melalui Java Fresh, menurutnya bisnis dapat menjadi sarana pemberdayaan. Dari kebun-kebun kecil di pelosok desa, lahir peluang baru yang membawa buah Indonesia ke panggung dunia sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat yang selama ini berada di balik rantai pasok pertanian.

ECKA PRAMITA 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |