ANGGOTA Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Mufti Anam, mengkritik kebijakan PT Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi untuk jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Menurut Mufti, kebijakan ini mengingkari janji pemerintah yang menyatakan tidak akan ada kenaikan harga BBM di tengah kelangkaan minyak akibat konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, dia juga mempermasalahkan kenaikan tarif tanpa didahului sosialisasi oleh pemerintah. “Lagi-lagi Pertamina menaikkan harga BBM tanpa ancang-ancang dan kenaikannya pun cukup signifikan. Kebijakan ini pastinya sangat memberatkan rakyat,” kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu dalam keterangannya pada Ahad, 19 April 2026.
Berdasarkan informasi harga BBM di situs web My Pertamina, harga BBM Pertamax Turbo dengan RON 98 naik dari Rp 13.100 per liter menjadi Rp 19.400 per liter. BBM jenis Dexlite dari Rp 14.200 per liter melonjak menjadi Rp 23.600 per liter. Pun harga Pertamina DEX yang melesat dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.
Meski harga BBM subsidi tidak ikut dikerek, Mufti menilai ini merupakan langkah mundur lantaran pemerintah tidak mampu mempertahankan komitmennya. Mufti mengatakan pemerintah hanya memberi ketenangan semu kemudian secara sepihak menaikkan harga BBM.
“Kemarin masyarakat ditenangkan dengan narasi bahwa harga BBM tidak akan naik. Rakyat diminta percaya, diminta tenang,” ujarnya. “Ternyata pemerintah benar PHP (pemberi harapan palsu) kepada rakyat.”
Menurut Mufti, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang lebih sering digunakan kalangan menengah ke atas tetap akan berpengaruh kepada semua lapisan masyarakat, termasuk ekonomi ke bawah. Apalagi jika pasokan BBM subsidi di daerah yang mulai terhambat pada akhirnya memaksa masyarakat beralih ke BBM nonsubsidi.
“Ini bukan lagi soal subsidi atau nonsubsidi. Ini soal keadilan bagi rakyat. Dan ini soal sensitivitas pemerintah yang menaikkan harga BBM saat kondisi ekonomi rakyat sedang tak baik-baik saja,” tuturnya.
Mufti heran, saat jalur distribusi energi Selat Hormuz dibuka, pemerintah malah mengambil keputusan ekstrem ini. Dia mendorong pemerintah segera menyesuaikan harga saat kondisi global sudah membaik. Jangan sampai menunggu rakyat bergerak baru harga berubah," katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi hingga akhir tahun. Ia mengatakan keputusan ini mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto guna menjaga stabilitas harga karena pasokan energi nasional masih aman.
“Saya sampaikan kepada publik bahwa insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insyaallah aman dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” kata Bahlil, dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 17 April 2026.


















































