Inovasi Limbah Pisang SMP Perbatasan Raih Juara Asia Pasifik

12 hours ago 1

SEKOLAH Menengah Pertama (SMP) IL Kapten Fatubaa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, meraih juara pertama kategori SMP dalam ajang AIA Healthiest Schools 2026 berkat inovasi mengolah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Berlokasi di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, sekolah tersebut menghadapi tantangan lingkungan akibat limbah kulit pisang yang tidak terkelola.

Melalui program bertajuk Huka Upcycling Project (HUP), yang diambil dari kata huka dalam bahasa Tetun yang berarti “pisang”, para siswa mengolah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk, seperti es krim kulit pisang, kompos organik, dan pupuk organik cair. Program tersebut juga diintegrasikan ke dalam pembelajaran sains dan kewirausahaan di sekolah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Proyek ini juga memperkenalkan sistem barter berbasis komunitas serta melibatkan siswa dari Timor Leste melalui seminar kolaboratif dan kegiatan uji coba produk,” demikian bunyi unggahan sekolah di instagram, 11 Juni lalu.

Atas inovasi tersebut, SMP IL Kapten Fatubaa berhasil menyisihkan hampir 1.000 peserta dari sembilan negara di kawasan Asia Pasifik dan membawa pulang penghargaan senilai US$ 40 ribu (sekitar Rp 720 juta). Dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan program kesehatan dan keberlanjutan di sekolah.

Keberhasilan tersebut dinilai istimewa karena sekolah berada di kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste. Setiap hari para siswa harus menempuh perjalanan sekitar 12 kilometer melalui jalan berbatu dan menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk mencapai sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, mereka mampu menghadirkan inovasi berbasis ekonomi sirkular yang kini mendapat pengakuan di tingkat Asia Pasifik.

Program HUP juga melibatkan guru, orang tua, petani, koperasi, hingga masyarakat di wilayah perbatasan. Inisiatif tersebut telah memberikan manfaat bagi petani lokal, masyarakat sekitar, serta lebih dari 150 siswa dari Timor Leste melalui kemitraan pembelajaran dan inovasi lintas negara.

Head Judge AIA Healthiest Schools Competition sekaligus Group Chief Marketing Officer AIA Group Stuart A. Spencer mengatakan pihaknya melihat bagaimana anak-anak muda mampu mengubah pengetahuan menjadi aksi nyata dalam kompetisi ini.

“SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari komunitas lokal dapat menghasilkan dampak besar bagi kesehatan dan lingkungan," kata Spencer dalam keterangan tertulis. 

Menurut penyelenggara, keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Berangkat dari tantangan sehari-hari di wilayah perbatasan, para siswa mampu menghadirkan solusi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan kesehatan masyarakat. Prestasi tersebut juga dinilai memperlihatkan kapasitas generasi muda Indonesia sebagai penggerak perubahan hingga tingkat regional.

Penyelenggaraan AIA Healthiest Schools 2026 juga mencatat capaian lain bagi Indonesia. Dari seluruh negara Asia Pasifik tempat AIA beroperasi, Indonesia menjadi negara dengan jumlah partisipasi terbesar. Sebanyak 2.896 peserta mendaftarkan diri dengan menghadirkan 359 proyek sekolah sehat dari berbagai daerah di Indonesia.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |