Kurs Rupiah Tembus 17 Ribu per Dolar. Apa Respons Kemenkeu?

6 hours ago 2

MATA uang rupiah masih konsisten berada di level 17 ribu per dolar Amerika Serikat sejak awal bulan ini. Pada Selasa, 21 April 2026 pukul 09.00, nilai tukar rupiah berada di level 17.125 terhadap dolar AS.

Kurs rupiah terhadap dolar saat ini makin menjauhi target asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok di level Rp 16.500 per dolar AS. Buku Nota Keuangan Rancangan APBN 2026 memaparkan setiap rupiah melemah 100 per dolar, dampaknya pada kenaikan penerimaan sebesar Rp 5,3 triliun dan belanja negara membengkak Rp 6,1 triliun.

Artinya setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar dari asumsi Rp 16.500 per dolar AS, APBN bakal mengalami defisit sekitar Rp 800 miliar. Tak hanya berdampak pada defisit, pelemahan rupiah juga berisiko bagi pembayaran utang dalam mata uang asing khususnya dolar AS.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Sujantoro mengatakan meski kondisi global sedang tak stabil, pemerintah berupaya mengelola APBN dengan baik. “Kementerian Keuangan berkomitmen bahwa APBN tetap dikelola secara prudent, fleksibel, dan responsif dalam merespons dinamika nilai tukar,” ucap Deni kepada Tempo, Minggu, 19 April 2026.

Deni menyatakan pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal, antara lain melalui optimalisasi penerimaan, penguatan kualitas belanja, optimalisasi penerimaan, serta pengelolaan pembiayaan dengan hati-hati. Sehingga APBN tetap sehat dan dapat berfungsi efektif sebagai penyerap guncangan atau shock absorber.

Dalam perannya sebagai shock absorber, menurut Deni, APBN diarahkan untuk meredam dampak lanjutan dari lonjakan harga energi global dan pelemahan nilai tukar. Agar tidak sepenuhnya ditransmisikan ke ekonomi domestik.

Pemerintah juga menyiapkan langkah meredam dampak penguatan dolar terhadap pembiayaan dengan memperkuat pinjaman atau utang dari dalam negeri. “Di sisi pembiayaan, pemerintah konsisten memperkuat basis pembiayaan domestik sebagai langkah mitigasi terhadap risiko nilai tukar,” ucap Deni. 

Di tengah meningkatnya volatilitas global, pemerintah secara aktif mengelola strategi pembiayaan melalui pengaturan waktu penerbitan surat berharga negara (SBN), pemilihan tenor yang optimal, serta pemanfaatan sumber pembiayaan yang paling efisien sesuai kondisi pasar. 

Diversifikasi pembiayaan juga terus diperluas, baik dari sisi instrumen maupun mata uang alias currency. Di sisi lain, jarak imbal hasil atau yield spread SBN dengan US Treasury atau surat berharga pemerintah AS saat ini lebih menarik dibandingkan jarak terhadap negara berkembang lainnya. Sehingga SBN berpotensi menjadi pilihan investor global jika sentimen global membaik dan investor mulai berani melirik negara berkembang lagi.

Deni menyatakan bahwa pemerintah terus menjaga komitmen menjaga pengelolaan fiskal tetap prudent dan disiplin fiskal tetap dipertahankan. “Sehingga ruang fiskal dan kepercayaan pasar tetap terjaga di tengah situasi global yang sangat dinamis,” ucapnya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |