PRESIDEN Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Museum ini didedikasikan untuk Marsinah, aktivis buruh asal Nganjuk yang dibunuh dan disiksa pada 1993 di era mantan presiden Soeharto.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada pagi ini Sabtu 16 Mei 2026 saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah," kata Prabowo di museum tersebut seperti disiarkan Sekretariat Presiden.
Seusai mendeklarasikan pendirian Museum Marsinah, Prabowo kemudian menandatangani prasasti peresmiannya. Ketua Umum Partai Gerindra ini didampingi keluarga almarhum Marsinah serta Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea.
Andi Gani, yang organisasinya menjadi salah satu inisiator pendirian museum, kemudian mengelilingi Museum Marsinah bersama Prabowo. Di dalamnya terdapat segmen-segmen yang menceritakan perjalanan hidup Marsinah.
Ada juga barang-barang peninggalan Marsinah dalam gedung tersebut. Di antaranya tas hingga kliping koran asli yang merekam peristiwa kematian aktivis buruh yang diangkat menjadi pahlawan nasional pada 10 November 2025 bersamaan dengan Soeharto ini.
Marsinah adalah seorang aktivis buruh yang tewas dibunuh karena memperjuangkan hak-hak pekerja di tempat dia bekerja di PT CPS Sidoarjo, Jawa Timur.
Lahir pada 10 April 1969 di Nganjuk, Jawa Timur, ia bekerja sebagai buruh di PT Catur Surya Putra (CPS), pabrik arloji di Sidoarjo. Marsinah aktif memimpin aksi-aksi untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja.
Pada 9 Mei 1993, Marsinah ditemukan tewas di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur. Pembunuhan Marsinah adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang sampai saat ini masih belum tuntas.
Marsinah diduga dibunuh setelah disiksa dan diculik karena dirinya getol memimpin aksi demonstrasi untuk kenaikan upah buruh di pabrik tempatnya bekerja.
Pada 3 Mei 1993, Marsinah memimpin aksi demonstrasi di pabrik tempatnya bekerja. Akibat unjuk rasa tersebut, manajemen PT CPS memanggil 13 buruh yang dianggap sebagai penggerak aksi mogok dengan bantuan aparat militer.
Pada 5 Mei 1993, Ke-13 buruh tersebut diinterogasi, diancam, dan dipaksa untuk membuat surat pengunduran diri. Mengetahui rekan-rekannya diintimidasi, Marsinah mendatangi markas Kodim Sidoarjo untuk mencari informasi dan melakukan protes. Pada malam harinya, Marsinah menghilang.
Marsinah diduga disiksa dan dianiaya secara brutal hingga tewas. Jenazahnya ditemukan pada 8 Mei 1993 di sebuah gubuk tengah hutan Dusun Jegong, Desa Wilangan, dengan tanda-tanda penyiksaan berat.
Pada 2025, 32 tahun setelah kematian Marsinah, Presiden Prabowo menetapkan Marsinah sebagai pahlawan nasional. Namun, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penetapan Marsinah sebagai pahlawan nasional tidak berkaitan dengan penyidikan ulang kasus pembunuhan aktivis buruh itu.
Prasetyo berkata Marsinah dianugerahkan pahlawan karena melihat jasanya. "Saya kira enggak ada hubungannya juga ya. Jadi hari ini kami melihat jasa-jasa dari para tokoh-tokoh terutama juga para pendahulu-pendahulu," kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin, 10 November 2025.
Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Agar Prajurit Indonesia Tak Gugur sebagai Pasukan Perdamaian















































