PEMERINTAH mengklaim Indonesia siap mengekspor pupuk dengan memanfaatkan peluang pasar global akibat terganggunya jalur distribusi internasional di Selat Hormuz kawasan Timur Tengah.
“Kita punya rencana dalam setahun ini kita punya stok dan bisa ekspor pupuk sebanyak 1,5 juta ton totalnya," kata Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam keterangan di Jakarta, Jumat, seperti dikutip dari Antara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia menjelaskan, saat ini sepertiga distribusi pupuk dunia melewati Selat Hormuz dan sebagian besar pasokannya berasal dari kawasan tersebut. Tapi adanya gangguan di wilayah itu menyebabkan banyak negara mengalami kesulitan pasokan pupuk, terutama jenis pupuk urea.
Kondisi ini, menurut Sudaryono, yang membuat banyak negara di dunia kini membutuhkan pasokan urea dari Indonesia. "Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia,” ucapnya.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah negara juga telah menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pupuk mereka. Pemerintah India, Filipina, dan Australia bahkan telah menyampaikan minatnya secara langsung.
“Pemerintah India sudah menghubungi kami. Saya juga telah menerima surat dari pemerintah Filipina dan Australia. Mereka siap membeli dengan harga berapa pun,” tutur Sudaryono.
Wamentan kemudian menjelaskan bahwa rencana sebelumnya untuk menutup sejumlah pabrik pupuk dalam negeri kini dibatalkan. Pasalnya, meningkatnya kebutuhan global telah membuka peluang ekspor lebih luas bagi Indonesia. “Pabrik-pabrik yang tadinya direncanakan untuk kita suntik mati, tapi sekarang tidak jadi. Karena ternyata permintaan sangat tinggi."
Lebih jauh, Sudaryono memaparkan bahwa ia telah melaporkan perkembangan hal itu kepada Presiden Prabowo Subianto, termasuk potensi komunikasi dari pemimpin negara lain terkait kebutuhan pupuk.
Selama setahun ke depan, kata Sudaryono, Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) telah menargetkan ekspor pupuk mencapai 1,5 juta ton. Namun pemerintah juga memastikan pupuk untuk petani dalam negeri tetap menjadi prioritas utama sebelum melakukan ekspor.
"Dan pastinya kebutuhan pupuk petani di dalam negeri pasti kita penuhi terlebih dahulu. Itu tidak akan kita utak-atik,” ujar Sudaryono, yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Rencana ekspor pupuk urea sebelumnya disampaikan oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi. Saat ini Indonesia masih mampu mengekspor pupuk urea guna membantu memenuhi kebutuhan negara-negara tetangga yang mengalami keterbatasan pasokan di tengah penutupan Selat Hormuz akibat gejolak global Timur Tengah.
Rahmad menyebutkan negara tujuan ekspor pupuk urea Indonesia selama ini antara lain Australia, India, termasuk Filipina. Dia juga menyebutkan kapasitas produksi pupuk urea secara nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional, meskipun kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton.
Harga urea global kini melonjak dari sekitar US$ 400 per ton menjadi US$ 800 per ton. Adapun Indonesia tetap aman karena sebagian besar kebutuhan dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Terkait dengan kuota ekspor, Pupuk Indonesia menyebutkan jumlahnya berkisar sekitar 1,5 juta ton, namun penyaluran tetap fleksibel mengikuti kondisi pasokan domestik. "Yang penting Indonesia aman dulu baru ekspor," kata Rahmad pada Kamis, 2 April 2026.

















































