Wet-bulb Temperature Naik, Gelombang Panas Semakin Mematikan

4 hours ago 1

GELOMBANG panas yang semakin intens karena perubahan iklim, membuat sejumlah wilayah di dunia mendekati batas aman untuk tubuh manusia bisa bertahan. Biasanya, tubuh menyesuaikan diri dengan cuaca panas melalui keringat, tapi di kondisi sekarang hal tersebut semakin sulit karena meningkatnya suhu terendah yang bisa dicapai tubuh setelah melewati pendinginan evaporatif (wet-bulb temperature).

Dengan meningkatnya suhu terendah tersebut, keringat akan sulit menguap yang menyebabkan tubuh kehilangan mekanisme utama untuk membuang panas. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, maka efek jangka panjangnya akan berakibat fatal yang bahkan memicu kematian.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Laporan yang dipublikasi di Earth pada Ahad, 7 Juni 2026, membeberkan bahwa panas ekstrem telah menewaskan hingga 500 ribu orang setiap tahun di seluruh penjuru dunia. Mayoritas korbannya adalah orang lanjut usia, pekerja luar ruangan, atau individu dengan kondisi kesehatan tertentu yang rentan terhadap panas ekstrem.

Para ilmuwan menyebut wet-bulb temperature 35 derajat Celsius sebagai batas teoritis ketahanan hidup manusia. Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu melepaskan panas secara cukup cepat, bahkan ketika berada di tempat teduh, memiliki akses air minum, dan tidak melakukan aktivitas fisik.

Beberapa wilayah dilaporkan telah mengalami kondisi yang mendekati atau melampaui batas tersebut. Di antaranya adalah sebuah kota di Pakistan bagian selatan, Jacobabad. Wilayah ini tercatat beberapa kali melewati ambang wet-bulb temperature 35 derajat Celsius sejak 2010. 

Sejumlah kajian dari para ilmuwan mewanti-wanti sebagian kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah berpotensi mengalami kondisi serupa Jacobabad, secara lebih rutin pada 2070 mendatang. Terutama apabila pemanasan global terus berlanjut.

Menurut laporan ini, adaptasi nyata terhadap situasi panas ekstrem ini perlu dilakukan sedari kini. Caranya dengan memperbanyak ruang hijau, ataupun perubahan jam kerja di luar ruangan demi mengurangi paparan panas ini ketika beraktivitas. 

Namun begitu, cara begini dianggap tidak akan serta-merta membawa perubahan. Tindakan paling jitu untuk menanggulangi anomali iklim itu adalah dengan menghentikan pemanasan global melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, serta menghapus bahan bakar fosil secara bertahap.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |