KOTA Tangerang Selatan masih menjadi salah satu kota dengan polusi udara yang tinggi di Indonesia. Wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya kerap mencatatkan konsentrasi debu halus PM2.5 di udara yang melebihi ambang batas aman, yaitu di atas 50 mikrogram permeter kubik.
Nilai ambang batas itu sudah lebih tinggi dari target interim WHO tertinggi (Interim I) yang sebesar 35 mikrogram permeter kubik. Polusi tersebut bersumber dari pertumbuhan kendaraan bermotor di Banten yang cenderung meningkat.
“Dampak polusi udara sering kali tidak disadari karena sifatnya tidak kasat mata, menjadikan polusi udara sebagai silent stressor dalam kehidupan perkotaan,” ujar Urban & Environmental Health Lead di Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Wisya Aulia Prayudi, dikutip dari keterangan tertulis.
Bicara dalam kegiatan komunitas Health Inc bertajuk “Napas di Kota Satelit: Hidup di Tengah Polusi Tangsel” di Tangerang Selatan, Banten, Sabtu 13 Juni 2026, Wisya menyatakan polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Menurut dia, selain memicu gangguan pernapasan, polusi udara turut mempengaruhi produktivitas kelompok usia muda dengan mobilitas tinggi.
"Partikel debu halus PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena bisa menurunkan kualitas kesehatan dalam jangka waktu yang lama karena bisa masuk ke dalam sistem peredaran darah," katanya menambahkan.
Wisya menjelaskan, Tangerang Selatan merupakan salah satu wilayah kota satelit Jakarta yang terus mengalami pertumbuhan mobilitas. Mengutip data dari Badan Pusat Statistik Banten, Wisya menuturkan pertumbuhan kendaraan bermotor di Tangerang Selatan cenderung meningkat, yaitu sebanyak 1,63 juta unit pada 2025.
"Angka ini berkorelasi langsung dengan aktivitas harian masyarakat yang berkontribusi pada meningkatnya emisi, salah satu sumber utama polusi udara," ujarnya.
Dalam kegiatan yang sama, psikolog klinis dari organisasi Noutrisi Jiwa, Winona Lalita, mengatakan, tekanan akibat perjalanan panjang, paparan polusi selama mobilitas, dan tuntutan aktivitas sehari-hari dapat memperburuk tingkat stres dan kelelahan. Khususnya, Winona merujuk kepada mahasiswa dan pekerja muda.
Ia menekankan bahwa menjaga kesehatan mental di tengah kondisi lingkungan yang menantang bisa dilakukan dengan mengambil rehat sejenak. "Kecemasan yang timbul akibat berada di lingkungan berpolusi juga dapat dikurangi dengan cara mengawali kegiatan dengan melihat tanaman setelah bangun tidur,” kata Winona.
Kreator konten ramah lingkungan Nada Arini menambahkan bahwa masyarakat Indonesia hidup dalam sistem yang sulit untuk hidup lebih sehat. Menurut dia, kebijakan-kebijakan yang ada tidak mendukung untuk menjalani hidup ramah lingkungan.
Dalam hal pembakaran sampah, misalnya, Nada menilai praktik ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pengolahan sampah yang kerap tidak berjalan di suatu daerah. Akibatnya, masyarakat yang sampah rumah tangganya tidak terangkut memilih membakar sendiri sampahnya. “Asap hasil pembakaran sampah menghasilkan polusi udara,” kata Nada.
Program Director Bike2Work Indonesia Dimas Gilang mengatakan pemerintah perlu menyediakan sistem transportasi yang lebih sehat serta ramah lingkungan di wilayah kota satelit seperti Tangerang Selatan. Dia menyuarakan pembenahan sistem transportasi agar semua moda transportasi bisa saling terhubung. Termasuk mendorong tersedianya parkiran sepeda agar pesepeda bisa mengakses transportasi umum dengan nyaman.
"Sistem transportasi yang saat ini membuat kita jadi malas bergerak," kata dia yang mengajak memulai perubahan dari hal-hal kecil dan sederhana. "Kalau jaraknya dekat bisa berjalan kaki saja dan konsisten dilakukan,” ujar Dimas.

















































