Bantuan Pangan MinyaKita di Solo Raya Berbau BBM

4 hours ago 3

WARGA di sejumlah daerah di kawasan sekitar Surakarta atau Solo Raya, Jawa Tengah, mengeluhkan bantuan pangan MinyaKita yang diduga berbau solar atau minyak tanah. Temuan itu muncul di sejumlah wilayah di Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Karanganyar.

Dari informasi yang diterima Tempo, temuan di Kabupaten Karanganyar terjadi di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar; serta Desa Gebyog, Kecamatan Mojogedang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ketua RT 1 RW 7 Kelurahan Tegalgede, Yono, 53 tahun, mengatakan sebanyak 15 kepala keluarga (KK) menerima bantuan minyak goreng tersebut pada Senin, 22 Juni 2026. Namun, sebagian besar langsung dikembalikan setelah tercium bau tidak wajar seperti bau Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia mengatakan warga mengeluhkan aroma solar. Warga pun diminta mengembalikan ke kantor kelurahan.

“Ada 15 KK yang mendapat bantuan minyak goreng dan sebagian besar bantuan itu dikembalikan,” kata Yono saat ditemui wartawan di Karanganyar, Rabu, 24 Juni 2026.

Hal serupa terjadi di Desa Gebyog, Kecamatan Mojogedang. Ketua RT 02 RW 13, Bibit Suwanto, menyebut sekitar 15 KK juga mengembalikan bantuan karena berbau minyak tanah. “Di RT saya ada 15 KK. Saat ini sudah ditaruh di kantor desa,” kata Bibit. Menurutnya, di Desa Gebyog ada sekitar 845 keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan pangan.

Ia menambahkan, sebagian warga baru menyadari bau tersebut setelah minyak digunakan untuk memasak. Pemerintah desa telah membuka opsi pengembalian jika ditemukan keluhan. Adapun di Kabupaten Klaten, temuan serupa ditemukan di dua kecamatan, yakni di Jogonalan dan Wedi.

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Surakarta menyatakan laporan tentang temuan bantuan minyak goreng berbau BBM tersebut sudah ditindaklanjuti dengan menarik dan mengganti dengan produk yang baru oleh produsen.

“Sudah ditindaklanjuti. Pemerintah daerah, Bulog, dan rekanan menarik semua produk dan menggantinya,” ujar Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta, Nanang Harianto, saat dihubungi Tempo melalui ponselnya, Kamis, 25 Juni 2026.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Klaten, Iwan Kurniawan, menyebut minyak bantuan tersebut diduga rusak atau tercemar. “Ternyata di Klaten ada dua kecamatan yaitu Wedi dan Jogonalan. Setelah kami turun ke lapangan, ternyata minyak goreng itu rusak atau tercemar,” kata Iwan.

Ia menjelaskan distribusi dilakukan Bulog bersama produsen. Seluruh produk yang bermasalah telah ditarik dan dilakukan penggantian. “Semua produk ditarik, dan prosesnya sudah berjalan beberapa hari ini. Kalaupun sudah dipakai tetap diganti sesuai data penerima,” kata Iwan.

Di Desa Sembung, Kecamatan Wedi, Klaten, sekitar 400 penerima telah mendapatkan penggantian. Kepala desa setempat, Sunarto, menyebut warga hanya perlu membawa kemasan untuk ditukar. “Bawa plastik pembungkusnya langsung diganti,” katanya.

Menanggapi temuan di berbagai daerah itu, PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) di Kabupaten Karanganyar selaku produsen MinyaKita, menyatakan telah bergerak cepat dengan menarik dan mengganti produk.

“Kami langsung bergerak begitu mendapat laporan dari warga. MinyaKita sudah ditarik dan diganti dengan produk yang baru,” kata Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya melalui keterangan tertulis Kamis, 25 Juni 2026.

Ia menyebut perusahaan melakukan penanganan bersama Bulog, pemerintah daerah, dinas terkait, aparat, hingga pemerintah desa. Menurutnya, perusahaan juga siap menanggung layanan kesehatan bagi warga yang mengalami keluhan akibat penggunaan minyak tersebut. PT KMR menegaskan tidak ingin mengambil risiko terhadap keselamatan konsumen. “Setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti,” ujar Joko.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |