DI tengah kehidupan yang semakin lekat dengan teknologi, tantangan orang tua saat ini bukan lagi membatasi anak dari dunia digital. Tapi mendampingi mereka agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
Psikolog Marsha Tengker menilai kebiasaan digital yang sehat tidak semata-mata ditentukan oleh durasi penggunaan gawai. Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun kemampuan anak untuk memahami kebutuhan dan mengatur dirinya sendiri saat berinteraksi dengan teknologi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Tujuannya adalah bagaimana anak bisa melakukan self-regulation. Jadi bukan hanya soal berapa lama dia menggunakan gadget, tetapi bagaimana dia memahami alasan di balik aturan itu dan akhirnya mampu mengatur dirinya sendiri," ujar Marsha dalam acara #AksiDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia yang digelar Google dan YouTube di Jakarta Selatan, Kamis, 4 Juni 2026.
Marsha mengatakan internet dapat menjadi sarana belajar, bereksplorasi, sekaligus menyalurkan kreativitas anak. Namun, kebutuhan emosional seperti rasa aman, kedekatan, dan koneksi tetap perlu dipenuhi melalui interaksi di dunia nyata. Ketika kebutuhan tersebut telah terpenuhi di rumah, anak tidak akan bergantung pada internet untuk mencari validasi maupun kedekatan emosional.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan yang diberikan orang tua kepada anak. Seiring bertambahnya usia, anak perlu mendapatkan ruang untuk belajar mengambil keputusan sendiri, meski tetap dalam pendampingan orang tua.
"Tanpa perlindungan anak menjadi rentan. Tapi tanpa kepercayaan, anak juga bisa tumbuh dalam ketakutan. Jadi keduanya perlu berjalan seimbang," kata Marsha yang juga menjadi content creator parenting.
Untuk membantu anak berpikir lebih kritis saat menggunakan internet, Marsha memperkenalkan pendekatan THINK yang mengajak anak mempertanyakan apakah informasi yang mereka lihat benar (true), bermanfaat (helpful), menginspirasi (inspiring), penting (necessary), dan baik (kind).
Anak Lebih Cepat Beradaptasi dengan Teknologi
Pandangan serupa disampaikan Nanda Yurani, educator dan content creator (educreator). Ia mengatakan anak-anak saat ini tumbuh sebagai generasi digital yang sudah akrab dengan teknologi sejak usia dini.
Karena itu, kekhawatiran bahwa anak tidak mampu beradaptasi dengan teknologi dinilai bukan lagi persoalan utama. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan anak untuk mengelola emosi dan memilah informasi yang mereka temui di internet.
"Anak-anak sekarang adalah digital native. Mereka sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kemampuan itu diimbangi dengan kematangan emosional dan kemampuan berpikir kritis," ujar Nanda.
Dalam kesehariannya sebagai pendidik, Nanda melihat banyak anak mudah mengikuti tren yang sedang populer tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kondisi tersebut membuat peran orang tua dan guru menjadi semakin penting dalam membantu anak memahami mana informasi yang layak diikuti dan mana yang tidak.
Meski demikian, Nanda menilai teknologi juga membuka banyak peluang positif dalam proses belajar. Di kelas, ia kerap memanfaatkan berbagai platform digital untuk membantu siswa mencari informasi tambahan, mengembangkan ide, hingga menumbuhkan kreativitas.
"Internet harus membuat anak menjadi lebih kreatif, lebih berdaya, dan lebih produktif. Bukan membuat mereka menjadi pasif," katanya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mengenalkan konsep jejak digital sejak dini. Menurutnya, setiap aktivitas yang dilakukan di internet memiliki konsekuensi yang perlu dipahami oleh anak-anak.
Peran Platform dalam Menciptakan Ruang Digital yang Aman
Sementara itu, Dora Songco, Product Marketing Manager Brand & Reputation Google Indonesia, mengatakan Google dan YouTube terus mengembangkan berbagai fitur yang dapat membantu keluarga menciptakan pengalaman digital yang lebih aman bagi anak.
Menurut Dora, perkembangan teknologi yang begitu cepat perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai agar orang tua dapat mendampingi anak sesuai kebutuhan dan tahap usianya. Beberapa fitur yang dirancang khusus untuk keluarga, seperti YouTube Kids dan Supervised Experience, memungkinkan orang tua menyesuaikan pengalaman digital anak berdasarkan usia mereka.
Selain menghadirkan fitur keamanan, berbagai program literasi digital juga dijalankan untuk membantu orang tua memahami perkembangan teknologi sekaligus membangun kebiasaan digital yang lebih sehat di rumah. Teknologi yang akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, membutuhkan kolaborasi antara keluarga, pendidik, dan platform digital.
Ghaeiza Kay Rasuffi berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Sejak Usia Berapa Anak Aman Diajak Naik Gunung?
















































