MENTERI Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memerintahkan adanya evaluasi kesehatan calon manajer koperasi desa merah putih dan kampung nelayan merah putih yang mengikuti pendidikan dan latihan dasar militer. Instruksi Menhan itu turun setelah lima peserta dinyatakan meninggal karena alasan kesehatan saat dalam pelatihan militer yang saat ini masih berlangsung.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan,” ucap kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan Mayor Jendral Ketut Gede Wetan Pastia di kantor kementerian, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Ketut merincikan, evaluasi terhadap peserta itu meliputi pengawasan medis, profiling kesehatan, penyesuaian intensitas kegiatan fisik, pengaturan sistem rujukan, serta penerapan mekanisme deteksi dini bagi peserta yang memiliki faktor risiko. Kementerian Pertahanan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan mendapat asistensi medis khususnya dalam mitigasi dan penanganan penyakit paru serta penyakit menular.
“Peserta yang berdasarkan pemeriksaan lanjutan diketahui memiliki kondisi khusus, termasuk kehamilan atau kondisi medis tertentu, penyelenggara mengambil langkah sesuai rekomendasi tenaga kesehatan,” kata Ketut.
Menurut Ketut, latihan militer yang diikuti peserta tidak menitikberatkan pada kemampuan fisik, melainkan pembentukan mental, karakter, kerja sama hingga kemampuan memecahkan masalah. Dia mengklaim, penyelenggaraan latihan militer disusun secara terukur dengan memperhatikan latar belakang peserta sebagai sipil.
“Perlu kami tegaskan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan membentuk peserta menjadi prajurit atau anggota militer. Para peserta tetap berada pada profesi dan penugasan sipilnya,” tutur dia.
Kematian calon manajer koperasi desa yang mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Bela Negara di Kalimantan membuat korban bertambah menjadi lima orang. Identitas peserta yang baru dinyatakan meninggal adalah Nola Dya Sari yang tutup usia pada Jumat malam, 26 Juni 2026.
Nola mengeluhkan sesak napas disertai demam pada pukul 18.45 WIB. Tim kesehatan satuan pendidikan lalu memberikan penanganan awal dan merujuk Nola ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Namun, Nola kemudian dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang untuk memperoleh penanganan yang lebih lanjut.
Dalam proses penanganan itu, jantung Nola berhenti sehingga dokter melalkukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi. Akan tetapi nyawa Nola tidak tertolong. Pukul 21.03 WIB Nola dinyatakan meninggal. Ketut menyatakan, hasil evaluasi medis Nola masih terus didalami untuk menemukan gambaran komprehensif mengenai penyebab kematian mendiang yang memiliki catatan kelebihan berat badan.
Pada Jumat dini hari, 26 Juni 2026, satu calon manajer koperasi lebih dulu menghembuskan napas terakhir saat mengikuti pelatihan militer di Kodam III/Siliwangi. Peserta itu bernama Muhammad Rifki Renaldi Gunawan. Berdasarkan resusme medis dan laporan khusus, penyebab kematian Rifki adalah infeksi paru-paru disertai komplikasi media. Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas.
Sebelumnya Kementerian Pertahanan juga telah mengonfirmasi kabar tiga calon manajer koperasi yang meninggal saat pelatihan militer dasar komando cadangan. Ketiganya adalah Novia Rahmadhani Sihotang, Anisa Muyassaroh, dan Yonanda Muhammad Taufiq.
Ketiga peserta tersebut meninggal setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan. Novia yang mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Udara, Jakarta, meninggal pada Selasa, 23 Juni 2026. Ia tercatat memiliki riwayat tuberkulosis atau TBC.
Sementara itu, Anisa meninggal pada 18 Juni 2026 setelah mengalami heat stroke saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Adapun Yonanda dinyatakan wafat akibat cardiac arrest atau henti jantung pada 17 Juni 2026 ketika mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat, Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.
Menurut Ketut, kelima peserta yang wafat telah dinyatakan lolos seleksi kesehatan dengan mengikuti pemeriksaan laboratorium, darah, urine, tes kehamilan, rontgen, hingga USG. Namun, kondisi medis kelimanya berbeda. “Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” tutur dia.

















































