Pendekatan Multidisplin Krusial dalam Penanganan Kanker

2 hours ago 3

PAKAR onkologi dari The University of Texas MD Anderson Cancer Center Banu Arun mengingatkan pendekatan multidisiplin sangat krusial dalam penanganan kanker. Hal ini, menurutnya bisa memperkuat akurasi dalam penanganan kanker. "Tidak ada pasien kanker yang sama. Dengan multidisiplin terapi, manajemen kanker bisa lebih presisi," katanya pada The 6th Siloam Oncology Summit 2026 pertengahan Mei 2026 di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa penanganan pasien kanker akan sulit diputuskan hanya oleh satu dokter spesialisasi medis saja. “Manajemen kanker menjadi sangat rumit berdasarkan karakteristik mutasi dan banyaknya ketersediaan obat baru. Proses multidisiplin menjadi sangat penting karena pasien berada di tengah, dan kita semua bekerja bersama sebagai tim untuk meningkatkan hasil pengobatan terbaik yang terpersonalisasi,” ujar Banu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Beberapa kesulitan yang kerap dirasakan para dokter ketika menangani pasien kanker adalah soal perawatan apa yang perlu dilakukan duluan. Apakah perawatan dengan obat, atau harus melakukan radiasi terlebih dahulu untuk menangani pasien. Hal itu kerap menjadi perdebatan. Kondisi pasien tentu menjadi acuan utama. Untuk memutuskan hal tersebut, dokter dari berbagai multidisiplin perlu diundang dalam menangani kasus si pasien.

Banu mengatakan, ketika hanya dokter spesialis onkologi yang menangani, tak jarang pasien akhirnya bingung ketika setelah dari onkologi, dia harus kembali ke beberapa dokter dengan multidipslin lain. Ada pula tantangan memutuskan apakah pasien sebaiknya melakukan radiasi dulu, atau meminum obat kanker dulu. Biasnya, kanker kondisi di lapangan tidak semua sama.

Ia pun mengingatkan penting untuk melakukan panel multidisiplin sebelum menangani pasien kanker. Para ahli multidisiplin ini minimal adalah 3 dokter ahli, seperti dokter spesialis onkologi medis, dokter spesialis bedah, dokter spesialis onkologi radiasi. Bisa pula di lain waktu, akan ada dokter spesialis lain dalam menangani pasien kanker. Dokter lainnya bisa dari disiplin pendukung seperti patologi molekuler, farmasi, genetika, dan pencitraan medis dapat berdiskusi menentukan urutan terapi yang paling sesuai bagi pasien.

Tim tersebut, kata dia, akan mengkaji secara komprehensif apakah pasien perlu menjalani operasi, kemoterapi, atau terapi target terlebih dahulu. Selama ini, kebanyakan dokter spesialis kanker bekerja sendiri-sendiri dalam menangani pasien.

Menurut Banu, sistem perawatan terpadu itu telah diterapkan oleh MD Anderson Cancer Center selama sekitar 30 tahun dan dinilai efektif meningkatkan hasil klinis sekaligus keselamatan pasien.

Ia juga menyarankan negara berkembang seperti Indonesia memanfaatkan teknologi untuk menerapkan konsep multidisplin di tengah tantangan ketimpangan fasilitas kesehatan. “Jika di suatu institusi kekurangan dokter spesialis tertentu, mereka bisa bermitra dengan rumah sakit lain yang memiliki teknologi dan dokter ahli untuk melakukan konferensi klinis bersama,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur RS MRCCC Siloam Semanggi dr. Adityawati Ganggaiswari mengatakan kolaborasi lintas profesi menjadi kunci pemerataan pengetahuan klinis hingga ke daerah hingga perawat khusus kanker.

Menurut dia, konsep multidisiplin tidak hanya melibatkan dokter spesialis, tetapi juga perawat onkologi, fisikawan medis, hingga radiografer yang mengoperasikan alat diagnostik dan terapi.

“Penanganan kanker tidak bisa hanya dilakukan oleh satu atau dua rumah sakit saja, terutama jika kita bicara tentang pasien dari daerah lain yang aksesnya tidak mudah. Melalui forum ini, kami mendistribusikan keahlian dan teknik pengobatan agar pelayanan onkologi berstandar global dapat diakses merata di seluruh Indonesia,” ujar Adityawati.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |