PELATIH Ghana Carlos Queiroz melontarkan sindiran terhadap perangkat Video Assistant Referee (VAR) setelah timnya menahan Inggris 0-0 pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Amerika Serikat, Rabu, 24 Juni 2026. Menurut Queiroz, Ghana seharusnya mendapatkan hadiah penalti pada akhir pertandingan.
Ia menilai wasit dan VAR mengabaikan pelanggaran yang dilakukan pemain Inggris terhadap penyerang Ghana, Prince Adu. "Saya tidak yakin VAR masih bekerja di Piala Dunia. Apakah VAR masih ada? Masih berfungsi?" kata Queiroz dalam konferensi pers seusai pertandingan, seperti dikutip dari ESPN.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia merujuk pada insiden ketika Ezri Konsa dianggap melanggar Adu di kotak penalti. Sebelumnya, pemain pengganti Ghana itu juga terlibat benturan dengan kiper Inggris Jordan Pickford, tetapi justru Ghana yang dinyatakan melakukan pelanggaran. "Saya punya keraguan karena ada penalti yang seharusnya diberikan untuk Ghana, penalti yang sangat jelas melawan Inggris," ujar pelatih asal Portugal tersebut.
Dalam pertandingan itu, Inggris tampil dominan sejak awal laga. Tim asuhan Thomas Tuchel mengandalkan kreativitas Jude Bellingham, Declan Rice, dan Harry Kane untuk membongkar pertahanan Ghana yang bermain disiplin dan bertahan rapat.
Dominasi Inggris terlihat dari penguasaan bola yang mencapai 88 persen hingga menit ke-18. Sepanjang pertandingan, The Three Lions bahkan mencatatkan 79 persen penguasaan bola, menjadi persentase tertinggi yang dicatat sebuah tim tanpa mencetak gol di Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir.
Meski terus menekan, Inggris kesulitan menciptakan peluang bersih. Kesempatan terbaik pada babak pertama hadir pada menit ke-37 saat umpan silang Noni Madueke disambut sundulan Declan Rice, tetapi bola melambung di atas mistar.
Pada babak kedua, Inggris tetap menguasai permainan. Peluang emas datang melalui Madueke dan Anthony Gordon pada menit ke-58, tetapi keduanya gagal memaksimalkan kesempatan. Nico O'Reilly juga nyaris mencetak gol setelah tembakannya membentur mistar gawang.
Di sisi lain, Ghana sesekali mengancam lewat serangan balik dan merasa dirugikan oleh keputusan wasit menjelang akhir laga. "Kami punya peluang sehingga mereka beruntung. Mereka sangat beruntung," kata Queiroz. "Sekali lagi wasit VAR sedang pergi ngopi. Itu hal yang wajar, saya juga ingin minum kopi sesekali, tetapi itu penalti yang jelas dan kartu merah."
Meski kecewa dengan keputusan tersebut, Queiroz mengakui hasil imbang merupakan hasil yang adil. "Mereka lebih banyak menguasai bola, kami lebih banyak berjuang. Kami menciptakan peluang, mereka juga punya peluang di akhir pertandingan. Saya pikir mereka senang dengan hasil imbang ini dan saya juga senang," ujar dia.
Selain kontroversi penalti, Queiroz juga terlibat adu mulut singkat dengan gelandang Inggris Jude Bellingham menjelang turun minum. Insiden bermula setelah pemain Real Madrid itu melakukan tekel keras terhadap Jerome Opoku.
Bellingham mengatakan ketegangan tersebut hanyalah bagian dari atmosfer pertandingan yang kompetitif. Namun Queiroz mengungkapkan dirinya hanya ingin meminta sang pemain lebih berhati-hati setelah melakukan tekel yang berpotensi berbuah kartu kuning kedua.
Hasil imbang membuat persaingan di Grup L masih terbuka. Inggris tetap memimpin klasemen dengan empat poin, unggul selisih gol atas Ghana yang berada di posisi kedua dengan jumlah poin yang sama. Kepastian lolos ke babak gugur akan ditentukan pada laga terakhir grup. Inggris akan menghadapi Panama, sedangkan Ghana bertemu Kroasia.
















































