KINERJA keuangan PT Kimia Farma (Persero) Tbk membaik setelah mengalami tekanan selama tiga tahun terakhir. Pada kuartal I 2026, perseroan mencatatkan pembalikan kinerja (turnaround) dengan membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 123,6 miliar.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal I tahun 2025, saat perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 126,4 miliar. Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menyatakan kunci utama pemulihan ini adalah keberhasilan restrukturisasi keuangan yang dijalankan sejak dua tahun.
“Capaian di kuartal I 2026 ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata langkah-langkah transformatif yang kami ambil kini mulai membuahkan hasil,” ucap Djagad dikutip dari keterangan resmi, Kamias, 30 April 2026.
Perusahaan dengan kode emiten KAEF ini menunjukkan perbaikan kinerja keuangan dari beberapa pilar utama laporan keuangan kuartal I tahun ini. Laba kotor (gross profit) perusahaan tumbuh 11,06 persen menjadi Rp 824,8 miliar dibanding Rp 742,6 miliar di kuartal I 2025. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi beban pokok penjualan yang berhasil ditekan secara signifikan sebagai hasil dari transformasi rantai pasok.
Performa operasional ditunjukkan dengan EBITDA yang mencapai Rp 153,8 miliar atau tumbuh 61,29 persen dibanding Rp 95,4 miliar di kuartal I 2025. Mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang kuat dari aktivitas operasional inti.
Selanjutnya, laba bersih (net income) mencapai Rp 123,6 miliar di awal 2026 dengan pertumbuhan 197,79 persen. “Mengakhiri tren negatif kerugian tahunan dan menjadi fondasi kokoh untuk mencapai target full-year yang optimistis.”
Djagad menyatakan salah satu program efisiensi yang berhasil dilakukan oleh perseroan adalah melakukan penataan sumber daya manusia (SDM) dan struktur organisasi dengan tetap memenuhi aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta prinsip good corporate governance.
Selain itu, selama triwulan awal 2026, Danantara melalui Bio Farma ikut memberikan dukungan pendanaan strategis yang menjaga stabilitas likuiditas perusahaan. Serta mempercepat proses restrukturisasi utang, sehingga beban bunga dapat dikelola lebih optimal.
Emiten BUMN Farmasi ini berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Transformasi difokuskan pada penguatan fundamental bisnis melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi SDM, digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar-entitas KAEF Grup.
Perseroan juga melakukan penajaman fokus bisnis dengan mengutamakan pengembangan dan pemasaran produk dengan margin yang lebih tinggi. Juga berkomitmen untuk menyediakan obat untuk mendukung program pemerintah dan menjaga aksesibilitas layanan kesehatan masyarakat.

















































