KUSMIYATI kehilangan anak laki-lakinya, Mustofa, dalam Kerusuhan Mei 1998. Mustofa tewas dalam pembakaran Yogya Mall Klender, Jakarta Timur, pada 14 Mei 1998 silam. Kini, Kusmiyati menjadi salah satu penggugat Menteri Kebudayaan Fadli Zon atas ucapannya yang menyangkal pemerkosaan massal 1998.
Perempuan itu bercerita tentang upayanya mencari anaknya hingga ke Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta Pusat. Setibanya di sana, ia bersaksi melihat banyak perempuan yang menjadi korban pemerkosaan. “Saya melihat dengan mata sendiri,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa, 7 April 2026.
Menurut Kusmiyati, saat itu ia melihat para korban beretnis Tionghoa. Kusmiyati lantas mengkritik pernyataan Fadli Zon yang menyangkal adanya bukti pemerkosaan massal pada 1998. “Fadli Zon itu bohong,” kata dia. “Saya melihat dengan mata sendiri di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Mei ‘98. Saya tujuannya mencari anak, tiba-tiba ada korban perkosaan.”
Kusmiyati berharap, dengan gugatan masyarakat sipil terhadap Fadli Zon di PTUN Jakarta, kenyataan tentang pemerkosaan Mei 1998 bisa terungkap.
Ia mengatakan banyak orang tua yang anaknya telah meninggal, terbakar, dan diperkosa dalam kerusuhan waktu itu. “Sampai saat ini sudah 27 tahun saya sebagai orang tua, anak saya enggak kembali, yang diperkosa juga enggak kembali, orang tua pada stres dan sakit. Saya masih dikasih kekuatan,” ujar dia.
Perihal kerusuhan Mei 1998 kembali mencuat setelah sejumlah masyarakat sipil menggugat Fadli Zon atas pernyataannya yang menyangkal bukti pemerkosaan massal 1998. Koalisi Masyarakat Sipil Melawan Impunitas menggugat Fadli Zon ke PTUN Jakarta pada Kamis, 11 September 2025. Putusan majelis hakim dalam kasus ini akan dibacakan pada 21 April 2026 mendatang.
Koalisi Masyarakat Sipil Melawan Impunitas terdiri dari sejumlah tokoh dan organisasi, antara lain mantan jaksa agung, Marzuki Darusman; Ita F. Nadia, Ketua TGPF Mei 1998; Kusmiyati, pendamping korban; Sandyawan Sumardi, orang tua korban kebakaran Mei 1998; Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia; Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia; serta Kalyanamitra.
Sebelumnya, Fadli Zon menyebut penulisan ulang sejarah bertujuan mengklarifikasi berbagai rumor yang selama ini dianggap sebagai fakta. Ia menjadikan isu pemerkosaan massal Mei 1998 sebagai salah satu contoh yang ingin diluruskan.
“Pemerkosaan massal kata siapa itu? Enggak pernah ada proof-nya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan, ada enggak di dalam buku sejarah itu?” kata Fadli Zon dalam wawancara yang ditayangkan di YouTube IDN Times pada Rabu, 11 Juni 2025.


















































