PARA ilmuwan baru saja menuntaskan penelitian terbesar ihwal musang luak Borneo (Melogale everetti). Banyak peneliti sebelumnya belum memahami lebih kompleks terkait mamalia karnivora kecil yang kini statusnya terancam punah tersebut.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ecology and Evolution pada 3 Juni 2026 mengungkap sebaran geografis serta ancaman utama terhadap satwa endemik Pulau Kalimantan itu. Musang luak Borneo ditemukan terkonsentrasi di wilayah pegunungan di Sabah, Malaysia, yang juga berdekatan dengan Kalimantan Utara, Indonesia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut hasil penelitian tersebut, keterbatasan jangkauan geografis itu pula yang membuat spesies tersebut menjadi salah satu karnivora yang paling kurang dipelajari sekaligus paling rentan di Pulau Kalimantan. “Spesies langka yang hanya ditemukan di Sabah,” kata manajer lapangan Bornean Carnivore Programme, Mohammad Aliyuddin, dikutip dari Earth, Ahad, 14 Juni 2026.
Data yang terungkap dalam penelitian ini didapatkan dari jaringan 188 kamera jebak dengan pengumpulan data sejak 2021 hingga 2024. Peneliti menemukan bahwa musang luak Borneo mencari makan di tanah hutan setelah gelap. Satu gambar bahkan menunjukkan satwa bertubuh musang dan berwajah luak ini membawa ular, memberikan gambaran langka tentang perilakunya yang tersembunyi.
Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa hewan nokturnal ini sangat bergantung pada ekosistem hutan dataran tinggi yang banyak mengandung karbon organik dan nitrogen untuk bertahan hidup. Ketergantungan pada habitat tertentu ini menempatkan mereka dalam risiko tinggi akibat hilangnya tutupan hutan. Terutama karena alih fungsi lahan untuk perkebunan skala besar.
Selain kehilangan habitat, perubahan iklim global juga dikhawatirkan menggeser batas vegetasi hutan pegunungan yang menjadi rumah bagi musang luak Borneo. Kata penelitian ini, jika suhu udara terus meningkat, satwa ini terpaksa bermigrasi ke elevasi yang lebih tinggi, di mana luas wilayah daratannya semakin kecil dan terbatas.
Peneliti juga mencatat bahwa aktivitas perburuan liar dan jerat yang dipasang secara acak di dalam hutan turut menjadi ancaman langsung di lapangan. Meskipun bukan menjadi target utama pemburu, ukuran tubuh yang kecil membuat satwa ini sering kali menjadi korban salah sasaran dari jerat untuk mamalia lain. “Penduduk desa terkadang menjebaknya, anjing peliharaan membunuh beberapa individu,” kata laporan penelitian itu.

















































