Kata Ekonom soal Peluang RI Turun Kelas Jadi Frontier Market

4 hours ago 1

MORGAN Stanley Capital International (MSCI) dijadwalkan merilis hasil tinjauan annual market classification review pada pekan depan. Dalam tinjauan tersebut, MSCI bakal memutuskan apakah Indonesia tetap pada kelompok emerging market atau diturunkan menjadi frontier market.

Sebagai acuan awal, MSCI telah merilis Global Market Accesibility Review 2026 pada Jumat, 19 Juni 2026. Hasilnya, MSCI menurunkan nilai arus informasi menjadi negatif dan mempertahankan nilai negatif untuk liberalisasi pasar valuta asing.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai Indonesia memiliki peluang yang kecil untuk turun menjadi frontier market. Sebab, ukuran pasar Indonesia relatif besar dan memiliki peran penting di kawasan. “Tapi catatan-catatan MSCI itu saja sudah cukup untuk mendorong net sell asing yang lumayan besar,” ucapnya kepada Tempo pada Kamis, 19 Juni 2026.

Menurut Wijayanto, pemberian nilai negatif untuk arus informasi menunjukkan bahwa kekhawatiran MSCI mengenai transparansi pasar modal Indonesia belum berubah. Dengan kata lain, MSCI memandang otoritas pasar modal belum melakukan perbaikan yang serius.

Soal pasar valas yang disorot MSCI, Wijayanto berpendapat kekhawatiran itu bersumber dari kebijakan Bank Indonesia yang makin membatasi transaksi valuta asing. Teranyar, Bank Indonesia akan membatasi pembelian valas tanpa underlying menjadi US$ 10 ribu per pelaku per bulan dengan tujuan menguatkan kurs rupiah. Selain itu, ucap Wijayanto, kebijakan terkait devisa hasil ekspor menambah kekhawatiran MSCI.

Menurut Wijayanto, kelayakan investasi suatu pasar menjadi rendah bila tidak terhubung dengan pasar dunia. “Aspek kontrol devisa menjadi ciri khas frontier market dan ciri-ciri itu makin terlihat di pasar modal kita,” ujarnya.

Kendati demikian, Wijayanto tetap memprediksi Indonesia bertahan di emerging market. Namun, jika tren kebijakan antipasar tetap berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, kata dia, Indonesia bisa menyandang status frontier market.

Merespons catatan MSCI, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Hasan Fawzi mengatakan masukan-masukan tersebut sebagai bagian dari proses perbaikan yang konstruktif.

“Terkait dengan arus informasi, kami memandang masukan tersebut sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang saat ini sedang dijalankan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia, Kliring Penjaminan Efek Indonesia, serta semua pelaku industri,” ucapnya dalam keterangan resmi pada Jumat, 19 Juni 2026.

OJK juga mencatat adanya pengakuan MSCI atas sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia. Hal itu ditandai dengan berkurangnya beberapa catatan mengenai liberalisasi pasar valas, meski hasil penilaiannya masih negatif seperti tahun lalu. Untuk menindaklanjuti kekhawatiran MSCI, Hasan mengatakan OJK akan terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas terkait, seperti Bank Indonesia.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |