KEMENTERIAN Perhubungan menyatakan penerapan sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur campuran 1 persen akan difokuskan untuk penerbangan internasional melalui dua bandara. Keduanya adalah Bandara Soekarno-Hatta, Banten dan I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Sokhib Al Rokhman mengatakan implementasi bioavtur ditargetkan mulai pada 2027. "Hanya untuk penerbangan internasional dan kita hanya fokus di dua bandara," kata Sokhib, seperti dikutip dari Antara, Senin, 13 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Sokhib, waktu pelaksanaan bergantung pada kesiapan pasokan bioavtur dari PT Pertamina yang saat ini tengah menyiapkan kapasitas produksi melalui sejumlah fasilitas kilang nasional. Kementerian Perhubungan menetapkan campuran bioavtur sebesar 1 persen pada tahap awal untuk memastikan implementasi berjalan aman, efektif, dan sesuai dengan standar operasional penerbangan internasional.
"Jadi SAF itu memang bertahap dan kita sudah mencanangkan itu di 2027. Harapannya adalah penerapan sustainable aviation fuel 1 persen blended dengan avtur yang ada," ucapnya.
Sokhib mengatakan Indonesia memilih pendekatan bertahap meskipun sejumlah negara telah menerapkan campuran SAF lebih tinggi sebagai bagian dari strategi transisi menuju penerbangan rendah emisi. Ia menyebut uji coba penggunaan bioavtur sudah dilaksanakan menggunakan pesawat Airbus A320 milik Pelita Air pada rute Jakarta–Denpasar dan Denpasar–Jakarta selama Agustus hingga Desember 2025.
Ia menilai uji coba itu telah memasuki tahap operasi komersial dan berlangsung tanpa kendala sehingga membuktikan penggunaan bioavtur aman diterapkan pada operasional penerbangan sipil.
Sokhib menegaskan penggunaan bioavtur tidak memerlukan penggantian mesin pesawat karena seluruh pengujian teknis telah dilakukan melalui fasilitas test cell milik Garuda Maintenance Facility.
Hasil pengujian menunjukkan mesin pesawat tetap bekerja normal sehingga tidak ditemukan persoalan teknis selama enam bulan penerapan SAF pada penerbangan komersial tersebut. "Tadi menyatakan apakah mesinnya harus diganti? Tidak, jawabannya tidak," kata Sokhib.
Kementerian Perhubungan kini menunggu kesiapan pasokan dari Pertamina, termasuk pengembangan produksi melalui kilang di Cilacap, Balongan, dan fasilitas lainnya untuk mendukung implementasi nasional. Setelah penerapan campuran 1 persen berjalan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum mempertimbangkan peningkatan kadar bioavtur secara bertahap pada penerbangan komersial berikutnya.
Pemerintah menargetkan penggunaan bioavtur terus meningkat hingga mencapai campuran sekitar 30-50 persen pada 2060 sebagai bagian dari upaya menekan emisi sektor penerbangan nasional.
"Kita akan bertahap, 1 persen kita evaluasi bagaimana teknologi itu bisa digunakan oleh mesin pesawat. Kemudian nanti tentu secara bertahap akan meningkat," ucap Sokhib.
















































