MSCI Soroti Pasar Valas Indonesia

6 hours ago 2

MORGAN Stanley Capital International (MSCI) memberikan nilai negatif untuk indikator liberalisasi pasar valuta asing Indonesia, atau sama dengan tinjauan sebelumnya. Hal ini tersurat dalam tinjauan Global Market Accesibility Review 2026. Liberalisasi pasar valuta asing ini merupakan salah satu aspek yang dinilai institusi itu terkait dengan kemudahan arus masuk-keluar modal.

"Tidak ada pasar valas luar negeri yang efisien dan terdapat kendala pada pasar valas dalam negeri (misalnya, transaksi valas harus dikaitkan dengan transaksi sekuritas)," tulis MSCI dalam laporannya yang dirilis pada Jumat, 19 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Secara keseluruhan, ada lima kriteria yang dinilai MSCI, yaitu keterbukaan terhadap investor asing, kemudahan arus masuk-keluar modal, efisiensi kerangka kerja operasional, ketersediaan instrumen investasi, serta stabilitas kerangka kerja institusional. Pada kriteria efisiensi kerangka kerja operasional, MSCI memberikan nilai negatif untuk arus informasi. Peringkat tersebut turun dari tahun lalu. 

Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai kekhawatiran MSCI muncul sebagai respons terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) yang semakin membatasi transaksi valuta asing. Teranyar, BI memperketat transaksi pembelian valas tanpa dokumen underlying menjadi US$ 10.000 per pelaku per bulan, dengan tujuan menguatkan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini berlaku per 1 Juli 2026.

Sejak awal tahun, BI terus memperketat threshold pembelian valas dari yang semula US$ 100.000 menjadi US$ 50.000, lalu menjadi US$ 25.000. “Kebijakan ini terus berubah, tiga kali dalam tahun ini saja, dan semakin restriktif. Lalu kebijakan terkait devisa hasil ekspor juga menjadi latar belakang kekhawatiran MSCI itu,” ucap Wijayanto ketika dihubungi pada Jumat, 19 Juni 2026. 

Wijayanto juga menyoroti bagaimana kebijakan bank sentral mengarah ke kontrol devisa yang merupakan salah satu ciri khas frontier market. Ia khawatir ketika pasar sebuah negara tidak terhubung dengan pasar dunia, maka nilai investability atau kelayakan investasi menjadi rendah. 

Lebih jauh ia berpendapat berbagai kebijakan Indonesia akhir-akhir ini cenderung tidak ramah kepada pasar dan investor. “Jika kita tidak mengubah mindset, maka pasar modal dan pasar uang kita akan mati pelan-pelan, menjadi 'zombie market'. Kelihatannya hidup, tetapi sebenarnya mati dan tidak punya peran ekonomi,” ujarnya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |