Tangga di Lakon Teater Under the Volcano

6 hours ago 2

Bumi Purnati Indonesia akan mementaskan teater tari yang mengusung judul Under the Volcano dan Tale of Boat di La Biennale di Venezia 2026 atau Venice Biennale, di Teatro alle Tese, kawasan Arsenale, Venesia, Italia. Kedua pertunjukan ini disutrdarai oleh Yusril Katil, dan Sri Qadariatin. Para awak teater segera bertolak ke Venesia, ItaIia. Under the Volcano akan menampilkan cerita tentang kisah masyarakat di Sumatera yang porak poranda setelah diterjang tsunami dan letusan Gunung Krakatoa pada 1883.

Kisah teater yang dipentaskan ini didasarkan pada puisi karya cendekiawan Sumatera Muhammad Saleh yang menyaksikan dahsyatnya letusan gunung api ini. Lakon ini menggunakan properti panggung yang menjadi elemen penting di panggung yakni tangga.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebelum keberangkatan ke Venesia, 9 Juni 2026 lalu, mereka mementaskan kisah tersebut di panggung Gedung Muhammad Mashabi, Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Pusat untuk gladi resik. Seperti beberapa pementasan sebelumnya, para penampil mengekspresikan diri dalam teater, gerak koreografi, silat, menyanyi dengan iringan musik tradisional Sumatera Barat.

Cuplikan produksi Under The Volcano produksi Bumi Purnati Indonesia. Dok. Bumi Purnati Indonesia

Tangga, Elemen Artistik dan Kreatif

Tangga menjadi elemen penting untuk memperkuat narasi dalam Under the Volcano. Properti yang sederhana tetapi kaya dengan makna. Yusril Katil menjelaskan tangga tak sekadar sebagai elemen artistik dan kreatif di panggung. Tangga menjadi pilihan bagi Yusril karena sarat dengan filosofi, metafora dan cukup menarik secara artistik dan estetik. Tangga mempunyai fungsi untuk membantu seseorang menjangkau tempat yang lebih tinggi. Tetapi bagi Yusril tangga punya makna lebih sebagai orang Minang.

“Di Minang ada dua sistem yang bisa diambil, filosofinya ini duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan juga ada berjenjang naik dan turun. Ini bisa diwakilkan dengan tangga,” ujar Yusril ditemui usai gladi resik dengan kostum pada 9 Juni 2026.

Tangga juga lekat dengan metafora kesialan atau hal-hal yang negatif seperti peribahasa yang mengatakan "sudah jatuh tertimpa tangga". Dalam pentas ini, dengan narasi visual tangga menjadi elemen yang menguatkan ketidakberuntungan atau kenestapaan yang ingin diceritakan. Tangga juga bisa untuk menggambarkan sebuah perjuangan, ketika sang penampil harus naik dan turun mencari kehidupan atau menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Untuk mencapai puncak, orang juga menggunakan tangga, harus jungkir balik, untuk meraihnya perlu kesungguhan.

 Para penampil di beberapa adegan tak hanya naik turun tangga, atau bergelantungan di tangga, tapi juga berjalan dengan bahkan dengan dua tangga seperti berjalan dengan egrang. Delapan tangga kayu tersebut akan dibawa ke Venesia untuk menciptakan gunung, lembah, menara, pasar, jembatan, bahkan keranda.  Diperkuat dengan instrumen tiup dan perkusi Minang yang mengiringi kelenturan, kekuatan para penampil berdiri, berlompatan di tangga.

Yusril juga melatih para aktor atau penampil dengan beberapa metode latihan seperti berlatih di alam seperti di sungai, melatih mereka dengan tangga-tangga ini dan juga menggali atau bertukar ingatan dan pengalaman tentang tangga. Dengan pengalaman dan ingatan kemudian didukung faktor ketubuhan mereka, Yusril bisa mengarahkan para penampil dalam pementasan tersebut.

Pementasan teater berjudul “Hikayat Perahu | The Tale of Boat” yang disutradarai Sri Qadariatin dalam gladi bersih di Pusat Pelatihan Seni Budaya, Jakarta, 9 Juni 2026. Tempo/Muhammad Zaki Fauzi

Tale of Boat dan Kerusakan Lingkungan

Sementara pada lakon Tale of Boat yang disutradarai Sri Qadariatin yang terinspirasi dari karya Hamzah Fansuri, seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup pada abad 16-17 Masehi di Aceh. Sri Qadariatin mengekspresikan pemikiran filsuf ini dengan gerak, nyanyian dan tradisi lisan bertutur atau mendongeng dengan iringan musik tradisi dari Aceh dan Sumatera Barat. “Saya mengambil salah satu syair beliau yang banyak bercerita tentang spiritualitas, saya belum mandalami sampai sana tetapi dari pemahaman saya mencintai Sang Pencipta itu juga mencintai apa yang diciptakan, seperti alam,” ujar Sri Qadariatin.

Wujud mencintai alam seharusnya dengan merawat bumi tapi malah kini manusia malah merusaknya. Karenanya ia kemudian menampilkannya dengan situasi yang relevan saat ini seperti tentang kerusakan alam akibat eksploitasi manusia. Dengan melibatkan pendongeng untuk menjembatani pemikiran Hamzah Fansuri dengan adegan-adegan yang ditampilkan. Selain itu untuk mengentalkan kerusakan, ia pun menghadirkan elemen yang sangat kontemporer dengan bola dunia dan suara gergaji.

Pilihan Editor:

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |