Wisatawan Rencanakan Liburan 120 Hari Sebelum Keberangkatan

4 hours ago 2

PERILAKU wisatawan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pada paruh kedua tahun 2026 menunjukkan pergeseran yang cukup signifikan. Di tengah dinamika dan tantangan ekonomi global, masyarakat di kawasan regional tetap mempertahankan minat yang tinggi untuk berwisata. Namun, pendekatan yang digunakan wisatawan kini jauh lebih cermat, terencana, dan berfokus pada efisiensi anggaran pengeluaran.

AirAsia MOVE merilis laporan tren perjalanan berdasarkan data pemesanan daring periode 1 Juli - 31Desember 2026. Laporan tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pemesanan tiket penerbangan internasional kini dilakukan lebih dari 120 hari sebelum tanggal keberangkatan. Langkah ini diambil wisatawan untuk mengamankan harga tiket yang lebih kompetitif serta mengoptimalkan anggaran liburan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Selain perencanaan jangka panjang, wisatawan regional juga semakin selektif dalam mengalokasikan anggaran perjalanan mereka. Data menunjukkan rata-rata pengeluaran untuk tiket pesawat 35 persen lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk akomodasi. Fenomena ini mengindikasikan bahwa masyarakat tetap bersedia membayar biaya penerbangan ke destinasi tujuan, tetapi memilih berhemat pada pilihan tempat menginap.

"Sebanyak 76 persen pemesanan hotel didominasi oleh akomodasi bintang tiga dan empat yang dinilai memberikan keseimbangan antara kenyamanan dan fleksibilitas harga," demikian bunyi laporan yang dirilis pada Rabu, 22 Juli 2026. 

Faktor kondisi keuangan pribadi juga mempengaruhi pemilihan waktu keberangkatan. Hampir 40 persen pemesanan penerbangan tercatat menyasar jadwal keberangkatan pada rentang tanggal 25 hingga tanggal 5 setiap bulan. Periode yang bertepatan dengan siklus penerimaan gaji ini menjadi momen utama bagi masyarakat Asean untuk merealisasikan rencana perjalanan mereka.

Dari sisi pilihan lokasi, keterbatasan anggaran dan waktu mendorong peningkatan minat pada penerbangan internasional jarak pendek. Pemesanan rute internasional dengan durasi tempuh di bawah empat jam mendominasi hingga 14 persen dari total pemesanan, atau melonjak 62 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, Jepang, dan Filipina diproyeksikan menjadi destinasi paling diminati hingga akhir tahun.

Perubahan perilaku ini didorong oleh kelompok demografi muda yang menjadikan liburan sebagai kebutuhan menjaga keseimbangan kehidupan kerja. Generasi Milenial menjadi penyumbang pemesanan terbesar yakni 43 persen, disusul Generasi Z sebesar 23 persen. Meski memiliki dorongan tinggi untuk bepergian, kedua kelompok ini bertindak lebih terukur dalam mengelola finansial.

Secara umum, tren perjalanan di kawasan Asean pada paruh kedua 2026 mencerminkan tingginya adaptabilitas masyarakat. Meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, daya beli dan antusiasme berwisata tetap terjaga melalui strategi pengelolaan modal dan waktu yang lebih efisien. 

LAODE MUHAMAD ASHEGAF

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |