Cerita Para Pemeran Film Dukun Magang

6 hours ago 3

FILM Dukun Magang mengangkat kisah seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Raka yang berusaha menyelesaikan skripsinya dengan cara tak biasa. Demi mendapatkan bahan penelitian, Raka memilih menelusuri dunia perdukunan di Desa Kalimati, yang masih kental dengan tradisi mistis dan berbagai cerita gaib yang dipercaya masyarakat setempat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sebagai sosok yang skeptis terhadap hal-hal berbau supranatural, Raka awalnya menganggap semua yang ditemuinya hanya sebatas mitos. Namun seiring berjalannya waktu, ia justru dihadapkan pada berbagai peristiwa yang sulit dijelaskan dengan logika. Mulai dari ritual-ritual misterius, warga desa yang menyimpan banyak rahasia, hingga kemunculan sosok Kuntilanak Hitam yang meneror desa tersebut.

Meski dibalut latar dunia mistis, Dukun Magang tidak hanya menawarkan ketegangan. Film ini juga menghadirkan banyak momen komedi melalui interaksi para karakternya yang kerap mengundang tawa di tengah situasi yang mencekam.

Film yang disutradarai Chiska Doppert ini dibintangi Jefan Nathanio, Hana Saraswati, Fajar Nugra, Adi Sudirja, Wira Nagara, Mang Osa, Dodit Mulyanto, Mo Sidik, dan sejumlah pemain lainnya. Dukun Magang tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026.

Jefan Nathanio Dekat dengan Raka

Pemeran utama Jefan Nathanio mengaku memiliki kedekatan dengan karakter Raka yang diperankannya dalam film ini. "Raka sebenarnya adalah Jefan, tapi versi masa depan. Tujuannya ingin menyelesaikan skripsi, tetapi harus melalui cara yang tidak biasa, yaitu menjadi dukun magang," ujar dalam konferensi Dukun Magang di Jakarta Selatan pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Menurutnya, karakter Raka dibangun dari sosok yang selalu mempertanyakan berbagai hal yang dianggap tidak masuk akal. Karena itu, ia tidak melakukan riset khusus untuk mendalami perannya. "Yang membuat Raka spesial adalah rasa skeptisnya. Karena tujuan awalnya hanya ingin menyelesaikan skripsi, ketika harus berhadapan dengan hal-hal gaib tentu ada banyak keraguan," katanya.

Jefan juga mengungkapkan salah satu pengalaman yang paling membekas selama syuting adalah saat menjalani adegan di sungai yang membutuhkan waktu panjang dan proses yang cukup rumit. "Itu adegan yang paling ribet eksekusinya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk diselesaikan," ungkapnya.

Hana Saraswati Ungkap Sisi Menarik Karakter Sekar

Sementara itu, Hana Saraswati yang memerankan Sekar menilai karakter yang dimainkan memiliki niat baik di balik berbagai peristiwa yang terjadi dalam cerita. "Menurut aku, Sekar itu ingin membantu Raka supaya cepat lulus kuliah. Niatnya sebenarnya baik," ujar Hana.

Tantangan terbesar yang ia hadapi justru bukan pada unsur horornya, melainkan bagaimana menyesuaikan penampilan agar terlihat lebih muda saat dipasangkan dengan Jefan Nathanio.

Selain membahas karakternya, Hana juga mengungkap salah satu konsep menarik yang dihadirkan film ini, yakni mengenai tingkatan kekuatan kuntilanak berdasarkan warna. "Selama ini yang kita tahu kuntilanak identik dengan warna putih. Tapi setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata kuntilanak bisa berubah warna sesuai dengan kekuatannya. Ada yang merah dan ada yang hitam. Yang hitam itu level kekuatannya paling tinggi," tutur Hana.

Konsep tersebut kemudian menjadi salah satu elemen yang memperkuat dunia mistis dalam Dukun Magang melalui kemunculan Kuntilanak Hitam yang menjadi ancaman bagi para tokohnya.

Adi Sudirja Belajar Logat Jawa

Adi Sudirja dipercaya memerankan Mbah Jambrong, sosok dukun sakti yang cukup berpengaruh di Desa Kalimati. Meski dikenal sebagai komedian, Adi mengaku harus menghadapi sejumlah tantangan selama proses produksi.

Salah satunya adalah mempelajari logat Jawa yang digunakan oleh karakternya. "Saya orang Medan, jadi cukup lama belajar logat Jawa untuk karakter ini," ujarnya.

Selain menghadirkan unsur mistis, Dukun Magang juga mengandalkan kekuatan komedi yang datang dari para pemainnya. Kehadiran sejumlah komika seperti Adi Sudirja, Wira Nagara, Mang Osa, Dodit Mulyanto, hingga Mo Sidik membuat film ini terasa lebih ringan dibandingkan film horor pada umumnya.

Bahkan, tim produksi mengaku sering kesulitan memilih adegan lucu karena para pemain kerap melakukan improvisasi di luar naskah selama proses syuting berlangsung.

Dengan perpaduan komedi dan horor yang ringan, Dukun Magang menawarkan pengalaman menonton yang berbeda. Penonton tidak hanya diajak merasakan ketegangan saat menghadapi berbagai teror mistis di Desa Kalimati, tetapi juga disuguhkan berbagai momen yang mengundang tawa sepanjang film berlangsung.

GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |