Spesies Baru Hiu Berjalan Ditemukan di Perairan Papua Nugini

5 hours ago 2

TIM peneliti yang dipimpin University of the Sunshine Coast (UniSC), Australia, menemukan spesies baru hiu berjalan atau walking shark yang sebelumnya tidak dikenal oleh sains di perairan tenggara Papua Nugini. Penemuan ini telah diterbitkan dalam Journal of the Ocean Science Foundation.

Spesies yang kini resmi diberi nama Hemiscyllium dudgeonae atau hiu berjalan dudgeon itu ditemukan saat tim melakukan penyelaman malam untuk meneliti populasi hiu epaulette yang terancam punah di Teluk Milne dan perairan dangkal di sekitarnya.

“Spesies hiu baru tidak sering ditemukan, dan ini jelas merupakan yang pertama dinamai berdasarkan nama saya,” kata Dr Christine Dudgeon dari University of the Sunshine Coast dalam keterangan tertulis, mengenai spesimen sepanjang sekitar satu meter yang ia tangkap secara langsung dan bawa kembali ke kapal penelitian.

Ia menjelaskan, hiu nokturnal tersebut hanya ditemukan di wilayah yang sangat terbatas di lepas pantai tenggara Papua Nugini. Keberadaannya sebagai spesies baru dikonfirmasi melalui penelitian kolaboratif yang dipublikasikan dalam jurnal internasional.

Hiu berjalan dikenal karena kemampuannya menggunakan keempat siripnya layaknya kaki untuk bergerak di atas hamparan terumbu karang saat air surut. Spesies ini memakan invertebrata di dasar laut dan tidak berbahaya bagi manusia.

Penulis utama studi tersebut, Jess Blakeway, mengatakan tim pertama kali menyadari adanya perbedaan pada spesimen yang ditemukan dibandingkan spesies hiu berjalan lainnya. “Saya langsung menyadari bahwa pola warnanya berbeda dari spesies lain yang pernah saya teliti sebelumnya,” ujar Blakeway.

“Hal pertama yang menonjol adalah garis-garis putih pada tubuhnya yang berwarna cokelat. Garis-garis ini sangat berbeda dari pola bintik mirip macan tutul yang kami perkirakan,” katanya melanjutkan.

Menurut Blakeway, tim kemudian menempatkan hiu tersebut dalam wadah berisi air laut untuk melakukan pengukuran dan pengambilan sampel biologis. Dalam dua malam berikutnya, mereka menemukan 11 individu lain dengan pola tubuh yang sama.

“Baru setelah analisis genetik terhadap sampel dilakukan di Australia, kami dapat memastikan bahwa ini adalah spesies baru. Temuan ini menarik karena merupakan spesies baru pertama yang dideskripsikan dalam genus ini sejak 2013,” katanya.

Nama spesies baru tersebut diberikan untuk menghormati Dr. Dudgeon, seorang ahli genetika dan ekologi elasmobranch yang telah meneliti kelompok hiu tersebut selama lebih dari dua dekade. Masyarakat lokal mengenalnya dengan nama kadedekedewa, yang secara longgar berarti hiu anjing atau hiu malas karena gerakannya yang lambat.

Temuan ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai kelestarian spesies baru tersebut karena wilayah persebarannya yang sangat terbatas serta ancaman berupa degradasi habitat, aktivitas penangkapan ikan, dan perubahan iklim.

“Kami berharap dapat mengumpulkan lebih banyak data dalam perjalanan penelitian berikutnya pada Oktober untuk membantu Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) menilai spesies ini sebagai rentan atau terancam punah.”

Selain mengidentifikasi spesies baru, penelitian itu juga mengungkap informasi baru mengenai persebaran dua spesies hiu epaulette lainnya di sekitar Pulau Nugini. Tim melakukan 70 survei di 35 lokasi berbeda menggunakan metode penyelaman, snorkeling, dan berjalan di area terumbu untuk menangkap hiu secara langsung.

Blakeway mengatakan hasil penelitian tersebut turut mengubah pemahaman ilmuwan mengenai persebaran hiu berjalan di Papua Nugini. "Kini kami mengetahui bahwa persebaran spesies di Papua Nugini bagian timur saling tumpang tindih, meskipun spesies-spesies tersebut tidak ditemukan hidup bersama di lokasi yang sama,” ujarnya.

Spesies baru ini, kata dia, merupakan spesies ke-10 dalam genus hiu epaulette Papua Nugini. Lima di antaranya telah masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai spesies yang terancam punah berdasarkan kriteria B, yang berkaitan dengan wilayah sebaran geografis yang terbatas. “Kriteria ini hanya berlaku bagi sekitar tiga persen dari seluruh spesies hiu,” tuturnya.

Pilihan Editor: Potensi Hujan di Jawa Barat Saat Musim Kemarau

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |