LEMBAGA pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di kisaran 5,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 hingga 2029 hanya 4,9 persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 lebih rendah dari target pemerintah 5,4 persen. “Kami memperkirakan pertumbuhan PDB riil Indonesia sebesar 5,1 persen tahun ini. Mengingat kinerja ekonomi kemungkinan akan melambat pada kuartal-kuartal berikutnya akibat ketidakpastian eksternal yang terus berlanjut dan kenaikan suku bunga domestik,” tulis S&P Global dalam rilisnya pada Senin, 13 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Prospek tersebut disampaikan S&P saat merilis peringkat utang negara di level BBB alias layak investasi alias investment-grade. Lembaga pemeringkat itu juga mempertahankan prospek peringkat utang RI tetap stabil.
Dalam rilisnya, S&P menyatakan pendapatan rata-rata di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan kebanyakan negara dengan peringkat investment-grade lainnya, namun pertumbuhannya lebih cepat. PDB per kapita diperkirakan mencapai US$ 5.200 tahun ini, hanya naik sedikit dari US$ 5.100 pada tahun 2025, meski S&P memprediksi pertumbuhan PDB nominal mencapai 8,3 persen.
S&P juga memperkirakan defisit fiskal Indonesia akan tetap sesuai ambang batas yang ditetapkan undang-undang. “Kami memperkirakan pemerintah akan tetap berkomitmen pada aturan fiskal untuk menjaga defisit di bawah 3 persen dari PDB, meskipun biaya energi meningkat.”
Lembaga ini menyoroti rencana pemerintah memangkas pengeluaran pada pos-pos lain seperti program makanan bergizi gratis (MBG). S&P memprediksi anggaran awal lebih dari Rp 300 triliun untuk program ini akan dipangkas sekitar sepertiga. Penghematan tersebut kemungkinan akan berasal dari perubahan parameter program, peningkatan efisiensi, dan pengetatan pengawasan.
Defisit neraca berjalan kemungkinan akan melebar tahun ini, namun peningkatan pendapatan ekspor dan normalisasi pasar energi secara bertahap akan meredam dampaknya.
Meskipun mata uang rupiah mengalami tekanan signifikan tahun ini, S&P memperkirakan Bank Indonesia akan merespons dengan berbagai alat kebijakan. Kondisi ini akan membatasi pengurasan cadangan devisa.

















































