MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan sumber dana Bond Stabilization Fund (BSF) yang akan diluncurkan kementerian. Ia mengatakan dana untuk BSF tidak hanya bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL).
“Kalau fund betulan, kan, desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain Kementerian Keuangan dan seluruh SMV (special mission vehicle) yang ada di bawah Kementerian Keuangan itu bisa ikut membantu ketika kami melakukan stabilisasi harga bond,” ucap Purbaya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan di Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Bendahara Negara menjelaskan, pada dasarnya insiatif Bond Stabilization Fund bertujuan untuk menjaga harga Surat Berharga Negara (SBN) di tengah keluarnya modal asing dari pasar domestik. Menurut Purbaya, meski modal asing yang keluar dari pasar SBN tidak terlalu besar, tapi hal itu mengganggu stabilitas nilai tukar rupiah.
Secara year-to-date, Bank Indonesia mencatat modal asing yang keluar atau capital outflow dari pasar SBN mencapai Rp 11,7 triliun. Sementara itu berdasarkan data Trading Economics, imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia turun menjadi 6,70 persen pada 6 Mei 2026 setelah sebelumnya sempat mencapai level 6,96 persen pada April 2026.
Purbaya menyatakan saat ini mekanisme Bond Stabilization Fund masih didiskusikan dan dimatangkan, termasuk jika dana tersebut digunakan untuk buyback atau pembelian kembali SBN. Ia juga menyatakan inisiatif BSF ini akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia.
Namun demikian, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu mengklaim saat ini stabilitas sistem keuangan masih terjaga. “Urgensinya (BSF) cuma itu, menjaga harga bond kita supaya stabil sehingga tidak menimbulkan kegaduhan di pasar modal,” ujar Purbaya.
Bond Stabilization Fund yang diinisiasi oleh Purbaya berbeda dengan Bond Stabilization Framework yang selama ini dapat diluncurkan lewat protokol Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Bond Stabilization Framework merupakan salah satu mitigasi yang disiapkan pemerintah berupa kerangka kerja jangka pendek dan menengah untuk mengantisipasi dampak krisis di pasar SBN domestik.
Inisiatif Bond Stabilization Framework sempat dijelaskan oleh Sri Mulyani pada 2018 saat masih menjabat sebagai Menteri Keuangan. Saat itu, Sri menyatakan BSF dapat aktif apabila KSSK menilai kondisi perekonomian dalam keadaan waspada.
Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini














































