Sastrawan Lekra Hersri Setiawan Rayakan Ulang Tahun ke-90

2 hours ago 2

EKS tahanan politik Pulau Buru Hersri Setiawan merayakan 90 tahun kelahiran di Yogyakarta dengan meluncurkan buku Humor Pulau Buru.  Hersri merayakan hari lahirnya bersama istrinya yang merupakan aktivis perempuan Ita Fatia Nadia, dua anak, dan sahabatnya.

Pilihan Editor: Eksegesis Jiwa Chairil Anwar

Hersri pernah menjadi Sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Lekra lahir pada 1950, lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lekra yang populer pada 1960-an dekat dengan Partai Komunis Indonesia.

Hersri pernah menjadi Wakil Ketua Lembaga Sastra Indonesia dan wakil Indonesia di Biro Pengarang Asia-Afrika, Kolombo, Sri lanka. “Dia terus setia dengan ideologi yang ia yakini sebagai pilihan dan perjuangan hidup,” kata Ita di Ace House, Ahad, 3 Mei 2026.

Kelompok paduan suara Dialita yang beranggotakan bekas tahanan politik dan anak-anak korban tragedi 1965 membuka perayaan ulang tahun Hersri. Mereka menyanyikan lagu-lagu yang mengingatkan pada perjuangan para perempuan penyintas dan keluarga korban peristiwa 1965 untuk bertahan hidup. Selain Dialita, terlihat puluhan akademisi, aktivis hak asasi manusia, dan budayawan.

Hadiah dari Butet Kartaredjasa

Seniman Butet Kartaredjasa membaca puisi karya Hersri sebagai hadiah ulang tahun. Butet juga memberikan kesaksian tentang peran ayahnya, Bagong Kussudiardja menyelamatkan sejumlah tokoh Lekra dari eksekusi mati, satu di antaranya Hersri.

Menurut Butet, saat geger peristiwa 1965, Bagong pernah melobi sejumlah pimpinan militer di Semarang agar tak mengeksekusi tapol Pulau Buru. Suatu ketika, Bagong menemui sejumlah tokoh militer di Semarang dan meminta daftar nama tapol yang akan dieksekusi. Salah satu nama yang masuk dalam daftar itu adalah Hersri. “Pak Bagong dengan siasatnya minta ke pimpinan militer itu agar tidak mengeksekusi Hersri,” kata Butet.

Menurut Butet, tak semua seniman Lekra tertolong karena datanya terserak. Misalnya Trubus Sudarsono karena ayahnya tak menemukan daftar namanya di Semarang.

Kesaksian Butet itu berdasarkan cerita Hersri yang kini mengalami gangguan pendengaran. Karena peran Bagong itulah, tapol di Pulau Buru kerap memberikan penghormatan kepada Bagong yang membantu orang-orang Lekra dengan cara berdoa.

Bagong pernah bergabung dengan Sanggar Pelukis Rakyat. Sanggar itu didirikan pelukis Hendra Gunawan di Yogyakarta Tahun 1949. Seniman-seniman Lekra di antaranya Hendra Gunawan dan Trubus Sudarsono pernah bergabung dengan sanggar seni itu. Bagong kemudian pindah ke Sanggar Pelukis Indonesia setelah Sanggar Pelukis Rakyat mulai identik dengan Lekra.

Kejadian di Pulau Buru

Menurut Ita, Hersri pernah menjalani keja paksa di Pulau Buru selama sembilan tahun. Hersri tiba di Pulau Buru pada 1969. Dia dikirim bersama konduktor terkenal Subroto, Martin Lapanuli, dan Sudarnoto sebagai rombongan kedua setelah Pramoedya Ananta Toer dan rombongannya.

Selain kewajiban kerja rodi menanam padi, setiap tapol kerap mendapatkan penyiksaan. Suatu hari, Hersri diinterogasi karena dua teman satu barak dia melarikan diri. Dua pengawal interogator itu memasukkan hewan orong-orong ke telinga kiri Hersri sembari tertawa.

Hersri merasakan kesakitan luar biasa. Setelah pengawal dan tentara itu pergi, dia menemui mantri agar mengambil orong-orong itu. Rupanya orong-orong itu tidak bisa diambil karena sudah terlalu dalam masuk ke kuping. Bagian tubuh orong-orong yang mati di dalam kuping itu baru bisa keluar satu per satu lima hari setelahnya. “Orong-orong ini merusak syaraf Hersri,” kata Ita. 

Selain gangguan pendengaran dan syaraf, Hersri juga kehilangan satu paru-parunya karena petugas menghimpitkan bilah bambu ke dadanya. Dampaknya Hersri mengalami penggumpalan darah di paru-paru dan muntah darah. Hersri dihukum karena petugas mencurigai dia mengonsolidasi para tapol untuk berani protes.

Hukuman lain yang pernah Hersri dapatkan adalah isolasi di barak yang gelap dan jatah makanan yang minim selama tiga bulan. Dia dihukum karena ketahuan membaca catatan-catatan Pramoedya Ananta Toer secara sembunyi-sembunyi.

Pengalaman Hersri di Pulau Buru dia tulis dalam buku berjudul Memoar Pulau Buru. Hersri bebas dari Pulau Buru pada 1978. Mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra Jawa Tengah itu ke Jakarta  untuk mencari nafkah. Dia mendirikan biro penterjemahan bernama Biro Translasi Inkultura bersama sastrawan Rivai Apin dan Joebaar Ajoeb yang juga baru bebas dari Pulau Buru. Mereka mampu menerjemahkan dalam Bahasa Inggris, Prancis, dan Belanda.

Pilihan Editor: Danarto dan Janji Non-Politik Sanggarbambu

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |